Datasets:
| {"id": 67, "proverb": "Buang yang keruh, ambil yang jernih", "meaning": "Meninggalkan hal-hal yang buruk dan memilih yang baik dalam mengambil keputusan atau menjalani hidup.", "usage_example": "Setelah kegagalan itu, ia memutuskan buang yang keruh, ambil yang jernih, dan mulai fokus pada peluang baru.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 136, "proverb": "Memayu hayuning bawana", "meaning": "Memayu hayuning bawana berarti menjaga dan memperindah dunia atau alam semesta dengan tindakan baik demi kesejahteraan bersama. Intinya, manusia bertanggung jawab merawat kehidupan yang harmonis.", "usage_example": "Dengan menanam pohon di lingkungan rumah, kita telah ikut memayu hayuning bawana.", "origin": "Jawa", "type": "pameo"} | |
| {"id": 101, "proverb": "Nasi sudah menjadi bubur", "meaning": "Sesuatu yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa diubah lagi, jadi menyesali hanya membuang waktu. Maknanya mengajak kita menerima keadaan dan melanjutkan hidup.", "usage_example": "Dia terus meratapi keputusan yang sudah diambilnya, padahal nasi sudah menjadi bubur.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 119, "proverb": "Tak ada rotan, akar pun jadi", "meaning": "Jika barang atau hal yang diinginkan tidak tersedia, barang lain yang ada bisa dipakai sebagai pengganti; yang penting tujuan tercapai.", "usage_example": "Tidak ada gula, tak apa pakai gula kelapa — tak ada rotan, akar pun jadi.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 75, "proverb": "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama", "meaning": "Orang yang semasa hidupnya berbuat baik akan dikenang nama dan jasanya setelah meninggal dunia.", "usage_example": "Pak Lurah itu sangat dermawan, maka wajar jika kini ia dikenang warga; gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 39, "proverb": "Bagai kucing dibawakan lidi", "meaning": "Seseorang yang terlihat sangat ketakutan atau ketakutan luar biasa, biasanya karena merasa bersalah atau takut dihukum, sehingga sikapnya menjadi cemas dan penuh waspada seperti kucing yang takut dipukul lidi.", "usage_example": "Sejak ketahuan meminjam uang tanpa izin, ia bagai kucing dibawakan lidi setiap kali bertemu ibunya.", "origin": "umum Indonesia", "type": "perumpamaan"} | |
| {"id": 19, "proverb": "Air pun ada pasang surutnya", "meaning": "Kehidupan selalu berubah-ubah; tidak selamanya berada dalam keadaan baik atau buruk. Kita harus siap menghadapi naik turunnya keadaan.", "usage_example": "Jangan terlalu bersedih dengan kegagalan ini, ingatlah bahwa air pun ada pasang surutnya.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 31, "proverb": "Bagai belut pulang ke lumpur", "meaning": "Kembali ke tempat atau keadaan asal yang sudah biasa dan terasa nyaman, meskipun sebelumnya sempat berada di tempat yang lebih baik atau terhormat.", "usage_example": "Sudah dua tahun bekerja di Jakarta, akhirnya dia pulang kampung dan bagai belut pulang ke lumpur saja hidupnya di desa.", "origin": "umum Indonesia", "type": "perumpamaan"} | |
| {"id": 79, "proverb": "Hemat pangkal kaya", "meaning": "Orang yang hidup hemat dan tidak boros akan mampu menabung sehingga menjadi kaya.", "usage_example": "Sejak mulai disiplin mencatat pengeluaran, ia percaya bahwa hemat pangkal kaya dan uangnya pun semakin bertambah.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 62, "proverb": "Besar kapal besar gelombang", "meaning": "Semakin besar tanggung jawab atau kedudukan seseorang, semakin besar pula cobaan dan tantangan yang harus dihadapinya.", "usage_example": "Sebagai pimpinam perusahaan, ia sadar besar kapal besar gelombang, jadi ia tak gentar menghadapi tekanan bisnis yang datang silih berganti.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 103, "proverb": "Patah tumbuh, hilang berganti", "meaning": "Ketika sesuatu hilang atau rusak, akan selalu ada penggantinya; setiap kekalahan atau kehilangan membuka jalan bagi hal baru untuk tumbuh.", "usage_example": "Jangan bersedih terlalu lama, karena patah tumbuh, hilang berganti; akan ada pemimpin baru yang lebih baik.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 90, "proverb": "Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu", "meaning": "Orang yang berpura-pura tidak tahu atau tidak melihat sesuatu padahal sebenarnya ia mengetahuinya dengan jelas, biasanya untuk menghindari tanggung jawab atau keterlibatan.", "usage_example": "Semua saksi melihat kejadian itu, tetapi ia kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu saat ditanya polisi.", "origin": "umum Indonesia", "type": "perumpamaan"} | |
| {"id": 1, "proverb": "Bagai air di daun talas", "meaning": "Sifat seseorang yang mudah berubah-ubah atau tidak dapat dipercaya pendiriannya, seperti air yang mengalir di permukaan daun talas. Maknanya menggambarkan ketidakteguhan hati atau mudah terpengaruh.", "usage_example": "Jangan terlalu percaya pada janjinya, orang itu bagai air di daun talas; kemarin setuju, hari ini sudah berubah pikiran.", "origin": "umum Indonesia", "type": "perumpamaan"} | |
| {"id": 144, "proverb": "Witing tresna jalaran saka kulina", "meaning": "Cinta dapat tumbuh karena kebiasaan dan keakraban; semakin sering berinteraksi, semakin besar kemungkinan timbul rasa sayang.", "usage_example": "Witing tresna jalaran saka kulina, makanya dia bisa jatuh cinta dengan teman sekantornya sendiri.", "origin": "Jawa", "type": "bidalan"} | |
| {"id": 114, "proverb": "Siapa menabur angin, akan menuai badai", "meaning": "Setiap perbuatan buruk yang dilakukan akan berbuah akibat buruk pula, sebanding dengan apa yang telah ditaburkan.", "usage_example": "Dulu dia suka menipu banyak orang, sekarang usahanya bangkrut—siapa menabur angin, akan menuai badai.", "origin": "umum Indonesia", "type": "bidalan"} | |