% AgriFlow — Detailed Architecture & Methodology % Compile: xelatex AgriFlow_Architecture.tex (or pdflatex) \documentclass[11pt,a4paper]{article} \usepackage[utf8]{inputenc} \usepackage[T1]{fontenc} \usepackage[a4paper,margin=2.4cm]{geometry} \usepackage{amsmath,amssymb} \usepackage{booktabs} \usepackage{longtable} \usepackage{enumitem} \usepackage{xcolor} \usepackage[hidelinks]{hyperref} \usepackage{titlesec} \titleformat{\section}{\Large\bfseries\color{black!85}}{\thesection}{0.6em}{} \setlist{nosep,leftmargin=1.3em} \newcommand{\code}[1]{\texttt{#1}} \title{\textbf{AgriFlow --- Detailed Architecture \& Methodology}\\[2pt] \large Food Security Intelligence Platform for Sub-National Indonesia} \author{AgriFlow Team --- PIDI DIGDAYA $\times$ Hackathon 2026, Bank Indonesia} \date{Revisi: Mei 2026} \begin{document} \maketitle \begin{abstract} \noindent AgriFlow adalah platform intelijen ketahanan pangan sub-nasional dengan tiga fungsi inti: \textbf{Deteksi} (anomali harga), \textbf{Prediksi} (peramalan harga), dan \textbf{Distribusi} (pencocokan surplus--defisit antar-kabupaten). Dokumen ini menjelaskan, untuk setiap fungsi: metodologi yang dipakai, alasan pemilihan metode, cara kerja, efektivitas, serta evaluasi dan validasi terhadap data nyata BPS/PIHPS Jawa Timur. Setiap pilihan metode didukung literatur terkini (2021--2026). Prinsip rancangan kami: \emph{honest engineering} --- memilih metode yang tepat untuk skala saat ini (38 kabupaten Jawa Timur), bukan yang paling rumit, dan menyatakan keterbatasan secara eksplisit. \end{abstract} \section{Ikhtisar Sistem} AgriFlow memproses tiga lapis nilai di atas satu sumber data bersama (harga PIHPS harian, produksi/konsumsi/populasi BPS per-kabupaten): \begin{enumerate} \item \textbf{Deteksi} --- mengidentifikasi anomali harga (lonjakan/anjlok) dari deret harga harian. \item \textbf{Prediksi} --- meramalkan harga 30 hari ke depan dengan foundation model time-series. \item \textbf{Distribusi} --- mencocokkan kabupaten surplus dengan kabupaten defisit melalui \emph{matching engine} 4-lapis yang sadar masa-simpan, jarak jalan nyata, dan keadilan. \end{enumerate} Ketiganya terhubung: prediksi dan deteksi memberi sinyal dini, distribusi menindaklanjuti dengan alokasi yang efisien sekaligus adil. \paragraph{Positioning.} AgriFlow adalah \emph{alat bantu keputusan untuk pemerintah} (Bapanas/Pemda), \textbf{bukan} marketplace komersial. Ini membedakannya dari platform seperti eNAM~\cite{enam} (lelang harga India) atau MealConnect~\cite{mealconnect} (penyelamatan pangan AS), dan dari B2B agritech Indonesia yang gagal karena margin tipis (mis. TaniHub~\cite{tanihub}). Karena insentif kami adalah KPI ketahanan pangan + stabilitas harga + keadilan --- bukan margin per-transaksi --- dimensi \emph{equity} antar-kabupaten menjadi tujuan utama, bukan afterthought. % ===================================================================== \section{Distribusi --- Matching Engine} \subsection{Formulasi masalah} Diberikan himpunan node \emph{surplus} $S$ dan \emph{defisit} $D$ per komoditas, kami mencari alokasi yang memaksimalkan kesejahteraan agregat dengan bobot keadilan. Karena \emph{kedua sisi menilai pasangan melalui satu fungsi skor bersama} (bukan preferensi ordinal independen seperti pasar dua-sisi), setting yang tepat adalah \textbf{centralized bipartite assignment dengan equity weighting} --- seorang perencana terpusat (Bapanas/Pemda), bukan pasar terdesentralisasi. Pandangan ini sejalan dengan kerangka \emph{optimal transport}/assignment di mana preferensi berasal dari surplus bersama~\cite{galichon2021}. Kami secara sadar \emph{tidak} mengklaim "stable matching Gale--Shapley pemenang Nobel": teorema stabilitas Roth--Sotomayor~\cite{roth1990} mensyaratkan preferensi ordinal independen, yang tidak berlaku di sini. \subsection{Cara kerja: arsitektur 4-lapis} \begin{itemize} \item \textbf{Layer 0 --- Tier classification.} Tiap kabupaten ditandai Tier~1 (8 kota IHK, harga harian PIHPS, confidence \emph{HIGH}) atau Tier~2 (kab non-IHK, mingguan, \emph{MEDIUM}). \item \textbf{Layer 1 --- Hard constraints.} Filter cepat: kecocokan komoditas, jarak $\leq$ maksimum (jarak jalan nyata OSRM, fallback haversine), umur panen $\leq$ masa-simpan, volume minimum, no self-match, mode darurat, override Pemda, prioritas Bulog. \item \textbf{Layer 2 --- Multi-objective scoring.} Skor 0--100 dari 5 dimensi berbobot: Distance 22\%, Volume 22\%, Price 22\%, Perishability 18\%, Climate 16\% (\emph{weighted-sum scalarization}). \item \textbf{Layer 3 --- Equity-weighted allocation.} $\text{Final} = \text{Base} \times m(\text{IPM})$, dengan $m$ \emph{equity multiplier} untuk kabupaten ber-IPM rendah; alokasi via modified Gale--Shapley (Tier~1$\leftrightarrow$Tier~1) atau greedy berprioritas-equity. \end{itemize} \subsection{Alasan pemilihan metode} \textbf{Weighted-sum scalarization} dipilih karena interpretable dan murah secara komputasi; kami menyadari ia hanya menjangkau solusi Pareto \emph{supported}~\cite{bazgan2021}, dan menyediakan 3 skema bobot (default/Ramadan/import) sebagai mitigasi parsial. \textbf{Equity multiplier} post-score dipilih demi transparansi bagi audiens kebijakan; literatur menunjukkan formulasi in-objective (penalty factor~\cite{firouz2021}) atau Gini-derived~\cite{alem2021} dan leximin maximin~\cite{hakimifar2022} lebih \emph{principled} secara teori --- ini kami tetapkan sebagai arah v2. \subsection{Efektivitas, evaluasi, dan validasi} Kami memvalidasi nilai keadilan secara \textbf{empiris} dengan membandingkan AgriFlow terhadap empat baseline (\emph{pure-greedy} = efisiensi, \emph{uniform} \& \emph{proportional-to-deficit} = acuan pemerataan, dan varian \emph{smoothed}) pada \textbf{dua skenario terkontrol} yang sengaja dirancang untuk mengisolasi efek keadilan: satu \emph{pasokan melimpah} dan satu \emph{pasokan langka} (\emph{shock} La Ni\~na yang menghapus surplus tiga sentra beras). Metrik: cakupan (volume-weighted), Gini (dari kurva Lorenz, weighted), Atkinson ($\varepsilon{=}1$), dan \emph{leximin} (fulfillment kabupaten terburuk). \begin{center} \begin{tabular}{lccccc} \toprule \textbf{Skenario / Strategi} & Coverage & Gini & Atkinson($\varepsilon{=}1$) & Sampang & Bangkalan \\ \midrule \multicolumn{6}{l}{\emph{Pasokan melimpah (surplus $>$ defisit)}}\\ \quad pure\_greedy & 0.890 & 0.093 & 0.113 & 1.00 & 1.00 \\ \quad uniform & 0.993 & 0.008 & 0.094 & 1.00 & 1.00 \\ \quad proportional & 0.993 & 0.007 & 0.094 & 1.00 & 1.00 \\ \quad \textbf{AgriFlow} & 0.880 & 0.099 & 0.114 & 1.00 & 1.00 \\ \midrule \multicolumn{6}{l}{\emph{Pasokan langka (shock La Ni\~na; defisit $>$ surplus)}}\\ \quad pure\_greedy & 0.665 & 0.302 & 0.984 & \textbf{0.00} & \textbf{0.20} \\ \quad uniform & 0.627 & 0.252 & 0.186 & 1.00 & 1.00 \\ \quad proportional & 0.702 & 0.159 & 0.137 & 0.78 & 0.78 \\ \quad \textbf{AgriFlow} & 0.665 & 0.290 & 0.938 & \textbf{1.00} & \textbf{1.00} \\ \bottomrule \end{tabular} \end{center} \noindent\textbf{Temuan kunci (jujur).} Saat pasokan melimpah, equity nyaris tak berdampak (kab termiskin sudah terlayani; Gini AgriFlow $\approx$ greedy). \emph{Nilai sebenarnya muncul saat langka}: greedy menelantarkan Sampang (0\%) dan Bangkalan (20\%), sedangkan \textbf{AgriFlow menjamin keduanya 100\% dengan biaya cakupan agregat nol} (0.665 = 0.665), Gini turun $0.302\!\rightarrow\!0.290$. Klaim presisi kami: \emph{"AgriFlow memprioritaskan kabupaten terlemah saat pasokan langka,"} bukan \emph{"menurunkan ketimpangan secara umum."} \paragraph{Dua jenis validasi (tidak dicampur).} (i) \emph{Perbandingan baseline} di atas dijalankan pada skenario terkontrol untuk mengisolasi efek keadilan secara apples-to-apples. (ii) Secara \emph{terpisah}, engine dijalankan \emph{end-to-end} pada \textbf{data BPS/PIHPS Jawa Timur asli per-kabupaten (tahun acuan 2022)} untuk 5 komoditas (beras, cabai merah \& rawit, bawang merah \& putih) --- membuktikan pipeline bekerja pada angka nyata, bukan sintetis. Seluruh hasil reproducible dan teruji otomatis (404 tes; 403 lulus, 1 di-skip --- lihat \S\ref{sec:pengujian}). \subsection{Mengapa metode ini tepat} Untuk konteks perencana terpusat dengan satu fungsi kesejahteraan, assignment terbobot lebih tepat dan dapat diaudit daripada mekanisme pasar dua-sisi. Pendekatan Food~Drop berbasis \emph{power-of-two-choices} dengan jaminan aproksimasi~\cite{diaby2024} adalah arah pelengkap v2 (menambah \emph{provable bound} yang saat ini belum ada). % ===================================================================== \section{Prediksi --- Peramalan Harga (TimesFM)} \subsection{Metode dan cara kerja} Peramalan harga 30 hari memakai \textbf{TimesFM 2.0}~\cite{timesfm2023}, \emph{decoder-only foundation model} time-series Google yang dilatih pada $\sim$100 miliar titik data dan mampu \emph{zero-shot} (tanpa pelatihan per-komoditas). Input: deret harga harian PIHPS per kota/komoditas; output: titik ramalan + interval prediksi (P10/P90). Prophet dan XGBoost dipakai sebagai \emph{baseline} pembanding. \subsection{Alasan pemilihan \& efektivitas} Bukti agri-spesifik terkini menunjukkan foundation model time-series \textbf{secara konsisten mengungguli} metode klasik (ARIMA/Prophet) maupun ML (XGBoost) untuk harga komoditas pertanian~\cite{wangzhang2026}, membalik anggapan lama bahwa "metode sederhana menang untuk komoditas." Pada leaderboard zero-shot independen (GIFT-Eval), keluarga TimesFM berada di tier teratas baik untuk akurasi titik (MASE) maupun probabilistik (CRPS)~\cite{timesfm2023}. Kami \emph{tidak} mengklaim TimesFM mutlak terbaik --- Chronos-2/Moirai-2.0 bersaing ketat. \subsection{Evaluasi dan validasi} Evaluasi memakai \emph{rolling-origin backtest} dengan MAPE \& MASE serta kalibrasi cakupan interval P10/P90. Keterbatasan jujur: konfigurasi \emph{univariate} melewatkan variabel eksogen. Untuk beras/cabai Indonesia, literatur menunjukkan indikator ENSO/iklim~\cite{alanshari2025} dan musim hari raya~\cite{eidpihps2026} \emph{material} terhadap akurasi --- karenanya v2 akan menambahkan kovariat (kalender Ramadan, indeks ENSO) yang secara teknis dapat di-\emph{retrofit} ke foundation model~\cite{chronosx2025}. % ===================================================================== \section{Deteksi --- Anomali Harga} \subsection{Metode dan cara kerja} Deteksi anomali memakai pendekatan \textbf{Seasonal-Hybrid ESD (S-H-ESD)}~\cite{shesd2017}: (1) \emph{deseasonalize} deret (buang trend + komponen musiman), lalu (2) terapkan statistik \emph{robust} median + MAD pada \emph{residual}, dengan flag $|r - \tilde{r}| > k \cdot 1.4826 \cdot \mathrm{MAD}$. Ditambahkan \emph{persistence threshold} (flag hanya jika bertahan $\geq 2$ observasi) dan \emph{floor} skala untuk komoditas bervolatilitas-rendah (beras). \subsection{Alasan pemilihan: mengapa BUKAN deep learning} Benchmark TSAD yang andal (NeurIPS~2024) menunjukkan bahwa di bawah evaluasi yang adil, detektor transformer (mis. AnomalyTransformer/TranAD) \emph{tidak} secara reliabel mengungguli metode statistik sederhana --- keunggulan mereka sebagian artefak metrik \emph{point-adjustment} yang bias~\cite{liu2024}. Untuk konteks kebijakan di mana \emph{interpretability} menentukan, memilih S-H-ESD adalah keputusan yang \emph{defensible}, bukan malas. \subsection{Efektivitas dan validasi} Pada harga PIHPS Jawa Timur 2021--2025, upgrade ke S-H-ESD memangkas jumlah flag $\sim$\textbf{60\%} (14.261 $\rightarrow$ 5.686) dengan menyaring \emph{noise} musiman rutin sambil \textbf{mempertahankan kejadian nyata}: lonjakan bawang merah Probolinggo $+$73--81\% pada April 2024 (pasca-Idul Fitri) tetap terdeteksi sebagai event \emph{sustained}. Validasi kontekstual: anomali teratas konsisten dengan kalender hari raya dan pola pasar nyata. Keterbatasan: \emph{binning} musiman bulanan mengaburkan pergeseran kalender Hijriah ($\sim$11 hari/tahun); trend rolling-median tertinggal $\sim$15 observasi saat \emph{regime shift}. % ===================================================================== \section{Data \& Validasi Empiris} Engine berjalan pada \textbf{data nyata BPS/PIHPS Jawa Timur per-kabupaten}: produksi (BPS Jatim), konsumsi per-kapita (Susenas BPS --- untuk beras bahkan \emph{per-kabupaten}, bukan asumsi nasional), populasi (BPS), dan harga harian PIHPS 2021--2025. Surplus/defisit diturunkan sebagai \emph{food balance}: $\text{surplus\_deficit} = \text{produksi} - \text{konsumsi}$, dengan satuan/konversi terdokumentasi (kuintal $\div 10$ = ton; padi GKG $\times 0.6286$ = beras giling). Lima komoditas inti tervalidasi nyata (beras, cabai merah \& rawit, bawang merah \& putih) pada tahun acuan konsisten 2022. Seluruh pipeline reproducible dan diuji otomatis (404 tes; 403 lulus, 1 di-skip). \section{Keterbatasan \& Roadmap (Phase 3)} \begin{itemize} \item Data nyata 5 komoditas, tahun 2022; daging \& telur menunggu data produksi per-kab lengkap. \item Konsumsi cabai/bawang memakai rata-rata nasional $\times$ populasi (proxy); beras sudah per-kab. \item Equity multiplier post-score (heuristik) $\rightarrow$ migrasi ke penalty/leximin in-objective~\cite{firouz2021,hakimifar2022}. \item Tanpa \emph{provable bound} $\rightarrow$ adopsi power-of-two-choices~\cite{diaby2024}. \item Prediksi univariate $\rightarrow$ tambah kovariat eksogen (ENSO/Ramadan)~\cite{alanshari2025,chronosx2025}. \item Skala provinsi (Jatim) siap; nasional 514 kab perlu spatial partitioning + precompute. \end{itemize} % ===================================================================== \section{Pengujian \& Validasi} \label{sec:pengujian} \subsection{Kenapa: keputusan kebijakan butuh bukti yang dapat direproduksi} AgriFlow bukan rekomendasi belanja biasa; outputnya menggerakkan alokasi pangan antar-kabupaten yang menyentuh kabupaten IPM-rendah. Untuk sistem keputusan seperti ini, klaim ``adil'' dan ``robust'' tidak boleh berhenti di narasi. Tiga alasan teknis menuntut suite uji otomatis yang tebal. \emph{Pertama, reproducibility}: seluruh pipeline food-balance (produksi $-$ konsumsi, konversi satuan BPS, surplus/defisit per-kabupaten) harus menghasilkan angka yang sama di mesin yang berbeda, sehingga uji data-nyata mengunci angka acuan 2022 sebagai \emph{golden numbers}. \emph{Kedua, regression-safety}: equity multiplier, bobot skor Layer~2, dan ambang anomali adalah parameter kebijakan yang sensitif; perubahan kecil tanpa sengaja dapat membalik pemenang alokasi, sehingga setiap seam (mis. \code{equity\_fn}) diuji \emph{default-preserving} agar refactor tidak diam-diam menggeser hasil. \emph{Ketiga, robustness terhadap kondisi nyata Indonesia}: literatur evaluasi deteksi anomali menunjukkan bahwa metrik yang tampak baik pada benchmark sintetis sering runtuh pada data lapangan dan flagging musiman~\cite{liu2024}; karena itu deteksi anomali AgriFlow diuji secara adversarial, bukan hanya pada lonjakan buatan. Filosofi ini sejalan dengan \emph{honest-engineering}: kami menguji justru pada kasus yang paling mungkin mempermalukan sistem, mengikuti pelajaran dari kegagalan agritech yang mengabaikan kondisi tepi pasar~\cite{tanihub}. \subsection{Apa: enam kategori uji} Suite memuat \textbf{404 tes terkumpul} dalam tujuh kelompok fungsional, dijalankan lintas-OS pada CI (matriks pytest). Tabel~\ref{tab:kategori-uji} merangkum cakupan. \begin{center} \begin{longtable}{p{5.4cm}rp{6.2cm}} \caption{Kategori uji AgriFlow dan apa yang dijaga.}\label{tab:kategori-uji}\\ \toprule \textbf{Kategori} & \textbf{\#} & \textbf{Yang divalidasi} \\ \midrule \endfirsthead \toprule \textbf{Kategori} & \textbf{\#} & \textbf{Yang divalidasi} \\ \midrule \endhead Unit per-layer (L0--L3) & 73 & Tier IPM (16), constraint jarak/perishability (19), skor weighted-sum (24)~\cite{bazgan2021}, alokasi equity-weighted (14)~\cite{firouz2021} \\ 24 skenario edge-case (A--F) & 27+ & Volume, spasial, temporal, disrupsi, politis, kualitas; memetakan kejadian nyata Jatim (lihat Tabel~\ref{tab:skenario}) \\ Validasi data nyata BPS/PIHPS & 57 & Food-balance beras (16) \& hortikultura 2022 (18), pipeline reproducible (23) \\ Deteksi anomali harga & 49 & S-H-ESD pada residual deseasonalized~\cite{shesd2017}; adversarial musiman~\cite{liu2024} \\ Forecast \& API & 40 & Endpoint forecast/anomali; fallback bila TimesFM/FastAPI absen~\cite{timesfm2023} \\ Baseline \& equity & 39 & Perbandingan greedy/uniform/proporsional vs AgriFlow (24) + skenario supply-constrained (15)~\cite{alem2021,hakimifar2022} \\ Ingest \& integrasi & 73 & Loader DB (11), ingest harga PIHPS (33), jarak jalan OSRM (9), bot WhatsApp (20) \\ \bottomrule \end{longtable} \end{center} \noindent Inti dari lapisan kedua adalah \textbf{24 skenario edge-case} (kelas \code{TestA1}\,$\ldots$\,\code{TestF2}), masing-masing memetakan satu kondisi operasional nyata Jawa Timur, bukan kasus buatan: lonjakan Ramadan, erupsi Semeru di Lumajang, banjir Madura, kenaikan BBM, dan kontrak Bulog. Tabel \ref{tab:skenario} memuat seluruhnya satu baris per skenario. \begin{center} \begin{longtable}{p{0.9cm}p{4.4cm}p{8.0cm}} \caption{24 skenario edge-case dan kondisi nyata yang dimodelkan.}\label{tab:skenario}\\ \toprule \textbf{Kode} & \textbf{Nama} & \textbf{Yang divalidasi} \\ \midrule \endfirsthead \toprule \textbf{Kode} & \textbf{Nama} & \textbf{Yang divalidasi} \\ \midrule \endhead A1 & One-to-many & Satu surplus memasok banyak defisit; split volume konsisten \\ A2 & Many-to-one & Surabaya 200t cabai dipasok dari banyak sentra \\ A3 & Volume mismatch drastis & Surplus 5t vs defisit 100t (ratio 5\%) $\rightarrow$ flag warning \\ A4 & Zero demand & Surplus tanpa defisit komoditas $\rightarrow$ peluang ekspor eksternal \\ B1 & Cross-tier & Tier~1 (Kota Kediri) surplus $\rightarrow$ Tier~2 (Sampang) defisit \\ B2 & Long distance & Pacitan$\rightarrow$Banyuwangi $\sim$400km melampaui batas 200km $\rightarrow$ ditolak \\ B3 & Cluster Madura & Empat kab Madura ditangani sebagai klaster spasial \\ C1 & Ramadan spike & Pra-Idul~Fitri H$-$14, bobot temporal disesuaikan \\ C2 & Post-harvest & Pasca-panen: margin perishability menyempit \\ C3 & Stale data & Data $>$24 jam $\rightarrow$ flag \code{STALE\_DATA\_24H}, confidence turun \\ C4 & Holiday calendar & Event spike non-Ramadan ter-deteksi engine (multi-holiday) \\ D1 & Banjir rute & Hujan 75mm rute Kediri--Surabaya $\rightarrow$ climate score 0.3 \\ D2 & Komoditas rusak & Cabai harvest\_age=4 (max 5) $\rightarrow$ perish score 0 \\ D3 & Harga anomali & Outlier $>3\sigma$ dari ambang statis per komoditas $\rightarrow$ exclude (pra-filter $z$-score, bukan S-H-ESD) \\ D4 & Erupsi gunung & Lumajang erupsi Semeru $\rightarrow$ unreachable, semua match ditolak \\ D5 & Banjir multi-kab & Bojonegoro+Lamongan+Tuban (sentra padi) banjir bersamaan \\ D6 & Route blackout & Rute ditutup (mudik/demo/maintenance) $\rightarrow$ re-route/reject \\ E1 & Equity tie-break & Skor seri $\rightarrow$ IPM lebih rendah menang~\cite{firouz2021} \\ E2 & Pemda override & \code{do\_not\_export\_cabai\_merah=True} dihormati \\ E3 & Bulog priority & Surplus beras di kab procurement Bulog $\rightarrow$ 60\% reserve \\ E4 & Import policy & Kebijakan impor bawang aktif $\rightarrow$ bobot price diturunkan \\ E5 & BBM naik & BBM +20\% $\rightarrow$ biaya logistik naik, max\_distance menyusut \\ E6 & Contract reserve & Kontrak swasta (MoU Carrefour, gula Indofood) dipotong dulu \\ F1 & Grade substitution & Surplus premium boleh memenuhi demand medium (opt-in) \\ F2 & Demand segmentation & HORECA \& RETAIL untuk komoditas+kab sama hidup berdampingan; \code{segment\_multiplier} mengubah ranking \\ \bottomrule \end{longtable} \end{center} \subsection{Hasil} Pada commit terakhir suite menjalankan \textbf{403 tes lulus, 1 di-skip} (404 terkumpul), konsisten lintas-OS di CI. Satu skip itu jujur kami catat: \code{test\_timesfm\_importorskip} memakai \code{pytest.importorskip} sehingga uji spesifik-TimesFM dilewati bila pustaka berat tersebut tidak terpasang di runner CI; jalur forecasting tetap diuji lewat fallback statistik dan kontrak API~\cite{timesfm2023}. Dua hasil validasi paling load-bearing: \paragraph{Equity hanya terbukti saat pasokan langka, dan diperoleh tanpa biaya efisiensi.} Pada skenario \emph{abundant} (surplus $>$ defisit), greedy maupun AgriFlow sama-sama menutup Sampang dan Bangkalan 100\%; tidak ada trade-off untuk diukur. Perbedaan baru muncul pada skenario \emph{supply-constrained} (La~Ni\~na: banjir simultan Ngawi+Madiun+Bojonegoro, surplus turun ke 3962t vs defisit 5249t, ratio 0.754). Di sana strategi greedy murni \textbf{menelantarkan Madura}: Sampang terlayani 0\% dan Bangkalan 20\%. AgriFlow mengangkat keduanya ke \textbf{100\%} sambil mempertahankan \emph{coverage agregat yang identik} (0.6649 untuk kedua strategi) dan menurunkan ketimpangan (Gini $0.3017 \rightarrow 0.2905$). Artinya equity multiplier membeli keadilan pada \textbf{biaya efisiensi nol} dalam skenario ini, sebuah klaim yang diuji, bukan diasumsikan~\cite{firouz2021,alem2021,hakimifar2022}. Kami sengaja tidak mengklaim keunggulan equity pada kondisi pasokan melimpah, karena di sana tidak ada yang harus dikorbankan. \paragraph{Deteksi anomali sadar-musiman, bukan sekadar ambang $3\sigma$.} Detektor S-H-ESD menandai penurunan harga tajam (uji DROP, mis. anjlok $\sim$60\% terhadap rolling median) dan lonjakan ekstrem, namun yang lebih penting: \emph{pola musiman murni tidak ikut ter-flag}. Pada uji seasonal, sinus musiman beramplitudo $\sim$30\% (mis. siklus harga jelang Lebaran) menghasilkan residual mendekati nol setelah deseasonalisasi sehingga tidak memicu false positive, sementara anomali genuine yang ditumpangkan di atas pola musiman tetap terdeteksi~\cite{shesd2017}. Inilah sifat yang ditekankan literatur benchmark anomali sebagai pembeda detektor yang andal di lapangan dari yang hanya bagus di kertas~\cite{liu2024}. \noindent Singkatnya, suite ini mengubah klaim arsitektur menjadi properti yang dapat diaudit ulang: setiap angka equity dan setiap perilaku anomali di dokumen ini memiliki tes yang menjaganya tetap benar pada commit berikutnya. % ===================================================================== \section*{Lampiran A --- Ringkasan Matematis} \addcontentsline{toc}{section}{Lampiran A --- Ringkasan Matematis} Seluruh formula yang \emph{load-bearing} di sistem, untuk acuan cepat (turunan lengkap di luar cakupan dokumen ini): \begin{center} \begin{longtable}{p{3.2cm}p{6.4cm}p{4.6cm}} \toprule \textbf{Komponen} & \textbf{Formula} & \textbf{Peran} \\ \midrule \endhead Skor Layer 2 & $\text{Base} = 100\sum_i w_i\,s_i$, \; $w=(0.22,0.22,0.22,0.18,0.16)$ & weighted-sum: Distance, Volume, Price, Perishability, Climate \\ Alokasi Layer 3 & $\text{Final} = \text{Base}\times m(\text{IPM})$ & equity-weighted assignment \\ Equity multiplier $m$ & $\text{IPM}{<}68\!\rightarrow\!1.30$; $68\text{--}72\!\rightarrow\!1.15$; $72\text{--}78\!\rightarrow\!1.05$; $\geq 78\!\rightarrow\!1.00$ & tier keadilan (kuartil IPM Jatim 2024) \\ Flag anomali & $|r-\tilde{r}| > k\cdot 1.4826\cdot \mathrm{MAD}(r)$, \; $k{=}3$, residual $r$ & S-H-ESD pada residual deseasonalized \\ Food balance & $\text{surplus/defisit} = \text{produksi} - \text{konsumsi}$ & turunan node surplus \& defisit \\ Konversi satuan & kuintal $\div 10 =$ ton; \; padi GKG $\times 0.6286 =$ beras giling & normalisasi data BPS \\ \bottomrule \end{longtable} \end{center} \noindent\emph{Catatan:} metrik evaluasi (Gini dari kurva Lorenz, Atkinson dengan parameter inequality-aversion $\varepsilon$, leximin, serta MAPE/MASE untuk forecasting) memakai definisi standar; pemilihannya dibahas di seksi terkait. Equity multiplier saat ini \emph{step-function} (interpretable bagi audiens kebijakan); migrasi ke bentuk \emph{smooth}/in-objective adalah arah v2 (\S Keterbatasan). % ===================================================================== \begin{thebibliography}{99} \bibitem{galichon2021} A.~Galichon. \emph{The unreasonable effectiveness of optimal transport in economics.} arXiv:2102.03875, 2021. \bibitem{roth1990} A.~E.~Roth, M.~Sotomayor. \emph{Two-Sided Matching: A Study in Game-Theoretic Modeling and Analysis.} Cambridge University Press, 1990. \bibitem{bazgan2021} C.~Bazgan et al. \emph{The power of the weighted sum scalarization for approximating multiobjective optimization problems.} arXiv:1908.01181, 2021. \bibitem{firouz2021} M.~Firouz et al. \emph{On the equity-efficiency trade-off in food-bank network operations.} arXiv:2111.05839, 2021. \bibitem{alem2021} D.~Alem, A.~Caunhye, A.~Moreno. \emph{Revisiting Gini for equitable humanitarian logistics.} 2021. \bibitem{hakimifar2022} M.~Hakimifar, V.~Hemmelmayr, F.~Tricoire. \emph{A lexicographic maximin approach to the selective assessment routing problem.} arXiv:2201.09599, 2022. \bibitem{diaby2024} M.~Diaby et al. \emph{Automating Food Drop: The Power of Two Choices for Dynamic and Fair Food Allocation.} ACM EC, arXiv:2406.06363, 2024. \bibitem{wangzhang2026} Wang, Zhang. \emph{The Promise of Time-Series Foundation Models for Agricultural Forecasting: Evidence from Commodity Prices.} arXiv:2601.06371, 2026. \bibitem{timesfm2023} A.~Das et al. \emph{A decoder-only foundation model for time-series forecasting (TimesFM).} arXiv:2310.10688, 2023 (TimesFM-2.5, GIFT-Eval 2026). \bibitem{chronosx2025} \emph{ChronosX / TFMAdapter: extending time-series foundation models with exogenous covariates.} arXiv:2509.13906, 2025. \bibitem{alanshari2025} Al~Anshari. \emph{Forecasting Rice Price Volatility in Indonesia: Integrating ENSO Indicators with Machine Learning.} IJSDP, 2025. \bibitem{eidpihps2026} \emph{Multi-Commodity Food Price Forecasting Ahead of Eid Al-Fitr in Indonesia.} MALCOM Indonesian J. of ML \& CS, 2026. \bibitem{liu2024} Q.~Liu, J.~Paparrizos. \emph{The Elephant in the Room: Towards A Reliable Time-Series Anomaly Detection Benchmark.} NeurIPS 2024 (Datasets \& Benchmarks). \bibitem{shesd2017} J.~Hochenbaum, O.~Vallis, A.~Kejariwal. \emph{Automatic Anomaly Detection in the Cloud Via Statistical Learning (Seasonal-Hybrid ESD).} arXiv:1704.07706, 2017. \bibitem{enam} \emph{e-NAM (Electronic National Agriculture Market), India} --- pasar lelang terpadu; tinjauan dampak \& tantangan (systematic literature review). \bibitem{mealconnect} \emph{MealConnect (Feeding America)} --- platform pencocokan penyelamatan pangan donor--bank, AS. \bibitem{tanihub} \emph{TaniHub Group collapse} --- pelajaran dari kegagalan agritech B2B terbesar Indonesia (margin tipis, ekspansi berlebih). \end{thebibliography} \end{document}