Dataset Viewer
Auto-converted to Parquet Duplicate
audio
audioduration (s)
1.65
24.8
text
stringlengths
4
262
duration
float32
1.65
24.8
sample_rate
int32
22k
22k
RONGGENG DUKUH PARUK, KARIAH AAMAT TOHARI, UNTUK LELAKI, PEREMPUAN, AND ANAK-ANAK DUKUH PARUK
13.5
22,000
Buku Pertama, catatan buat emak. Bap Satu, sepasang burung bangau melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit, tanpa sekalipun mengepak sayap.
13.44
22,000
Mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua ungas itu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air.
12.58
22,000
telah lama mereka merindukan amparan lumpur tempat mereka mencari mangsa, katak, ikan, udang, atau serangga air lainnya. Namun kemarau belum usai.
13.57
22,000
Ribuan hektar sawah yang mengelilingi duku paruk telah tujuh bulan kerontang. Supasang berumbangau itu tak akan menemukan genangan air, meski hanya celeber telapak kaki.
11.36
22,000
Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. segala jenis rumput mati. yang menjadi bercak-bercak hijau di sana sini adalah krokot. Sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkri.
14.82
22,000
Tembuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya. Di bagian langit lain.
8.16
22,000
Sekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagi batu lepas dari ketapel sambil menjerit sejadi-jadinya. Di belakangnya, Sekor alap-alap mengejar dengan kecepatan berlebih.
13.34
22,000
Udara yang ditempuh kedua binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu terdengar ketika paruh alap-alap menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus berterbangan.
12.31
22,000
Pembunuhan terjadi di udara yang lengang di atas duku paruk. Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh.
13.83
22,000
Gemberisik Rumpun Bambu Berdirit baling-baling bambu yang dipasang anak gembala di tepihan dukuh paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendahulat kelengangan langit di atas dukuh paruk.
14.99
22,000
Udara panas berbulan-bulan mengeringkan berjenis biji-bijian. Buah randu telah menghitam kulitnya, pecah menjadi tiga juring. Bersama tiupan angin, terburaigumpalan-gumpalan kapuk.
13.8
22,000
Setiap gumpal kapuk mengandung biji masak yang siap tumbuh pada tempat ia hingga di bumi. Demikian kearifan alam mengatur agar pohon randu baru tidak tumbuh berdekatan dengan biangnya.
12.98
22,000
Pohon dadap memilih cara yang hampir sama bagi penyebaran jenisnya. Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin berhembus, tampak seperti ratusan kupu.
14.88
22,000
terbang menurut di arah angin meninggalkan pohon dadap. Kalau tidak terganggu oleh anak-anak duku paruk, biji dadap itu akan tumbuh di tempat yang jauh dari induknya. Begitu perintah alam.
12.92
22,000
Dari tempatnya yang tinggi, kedua burung bangau itu melihat duku paruk sebagai sebuah gerumbul kecil di tengah padang yang amat luas. Dengan daerah pemukiman terdekat, duku paruk
12.96
22,000
hanya dihubungkan oleh jaringan pematang sawah, hampir 2 km panjangnya, dukuh paruk, kecil, dan menyendiri. Dukuh paruk yang menciptakan kehidupannya sendiri.
13.31
22,000
23 rumah berada di perdukuhan itu, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Konon, moyang semua orang duku paruk adalah kisicamenggala, seorang bromo corah.
14.02
22,000
yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai tempat menghabiskan riewat keberandalannya. Didukuh paruk inilah akhirnya kisica menggala, menitipkan darah dakingnya.
12.1
22,000
Semua orang duku paruk tahu kisicamenggala moyang mereka dahulum menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi, mereka memudjanya.
10.49
22,000
Kubur kisica menggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah duku paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan Kubur kisica menggala
12.52
22,000
membuktikan pola tingkah kebatinan orang duku paruk berpusat di sana. Di tepi kampung, tiga anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampo lemah,
13.72
22,000
untuk mengalihkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur, kering dan membantu. Mereka teringah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya.
12.8
22,000
Ketiganya hampir berputus asa, seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal. Caris batang cungkil, katar Rasus kepada dua temannya.
11.33
22,000
Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencaput singkong sialan ini, percuma hanya sebatang lingis dapat menembust tanah sekras ini, ujar wartah atau lebih baik kita mencari air.
12.69
22,000
Kita siram pangkal batang singkong kurang ngejar ini, pasti nanti kita mudah mencabutnya. Air, Eject Darsun, anak yang ketiga. Dimana kau dapat menemukan air? Sudah, sudah, kalian tolong.
14.04
22,000
Ujar rasus tak sabar. Kita kencingi berame-rame pangkal batang singgong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan. Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. CUR. Kemudian, rasus.
14.56
22,000
wartah dan darsun berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan masing-masing. Dengan tekat terakhir, mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan dipunggung menegang.
13.9
22,000
Ditolaknya bumi dengan entakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah mereka. Ketika akar terakhir putus,
11.8
22,000
Ketiga anak duku paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut. Adat duku paruk mengajarkan
12.95
22,000
Kerjasama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, wartah, dan darsun kini harus saling adu tenaga memperbutkan umbi singkong yang baru mereka cabut.
13.24
22,000
Rasus dan wartah mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan giji masing-masing dan langsung mengunyahnya.
13.55
22,000
Asinnya tanah, sengatnya kenceng sendiri. Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan.
12.27
22,000
Yakin bahwa binatang gembalan mereka tidak merusak tanaman orang? Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di menang mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu, mereka melihat serintil sedang asik bermain seorang diri.
13.43
22,000
Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota. Duduk bersimpu di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, serintil berdendang. Siapapun didukuh paruk,
13.97
22,000
hanya mengenal dua irama, orang-orang tua bertambang kidung dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kekana-kanakannya, serintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng.
12.98
22,000
Senggot timbani rante, tiwas ngegot ning ora suhe Lagu erotik, serintil, perawan yang baru 11 tahun menyanyikannya dengan sungguh-sungguh
14.19
22,000
Boleh jadi serintil belum paham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukup Haruk tidak akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul sekalipun.
12.73
22,000
Betapa asik serintil dengan dengannya? Terbukti, dia tidak menyadari ada 3 anak laki-laki sudah berdiri di belakangnya. Serintil baru sadar
11.04
22,000
ketika sedang mencoba memasang mahkota daun nangka ke atas kepalanya. Terlalu besar, ujar rasus mejejutkan serintil. Perawan kecil itu mengangkat muka. Aku bersedia membuatkan badangan untukmu.
13.25
22,000
Sambung rasus menawarkan jasa. Tak usah. Kalau mau, ambilkan aku daun bacang. Nanti badungan ini lebih baik, jawab serintil. Rasus tersenyum. Baginya.
14.44
22,000
memunuhi permintaan serintil selalu menyenangkan. Maka dia berbalik, menoleh kiri kanan, mencari sebatang pohon bacang. Setelah didapat, rasus memanjat, cepat seperti seekormonyen.
14.08
22,000
Di petiknya beberapa lembar daun bacang yang lebar, pikir rasus dengan daun itu mahkoh tadi kepala serintil akan bertambah manis. Dengan bantuan ketiga anak laki-laki itu,
12.94
22,000
Serintil dapat menyelesaikan mahkota daunnya. Ukurannya tepat. Bagus sekali, kata Rasus, setelah melihat badungan daun nangka itu menghias kepala serintil. Sungguh?
13.33
22,000
Balas rintil menyakinkan, Aku tidak bohong, Bukan kah begitu wartah? Darsun? Iya benar. Kau cantik sekali sekarang, Ujar wartah. Seperti seorang rong, gang, Tanya serintil lagi.
14.39
22,000
Kayanya manja. Betul. Ah, tidak. Potong darsun. Kecualin kau mau menari seperti rong, geng. Serintil diam. Di pandangnya ketiga anak-laki-laki dihadapannya.
13.01
22,000
Dalam hati, Serintil merasa penasaran. Apakah kalian menyangka aku tak bisa menari seperti seorang ronggeng? Tanya Serintil. Baik, aku akan menari. Kalian harus mengiringi tarianku.
14.76
22,000
Bagaimana? Tantang serintil. Wah, jadi kalau begitu? Jawab rasus cepat. Aku akan menurukan bunyi gendang. Warta menurukan calung. Dan Darso menurukan gong tiup. Hayo!
14.68
22,000
Di pelateran yang membantu di bawah pohon nangkah, ketika angin tenggara bertiup dingin menyapuh harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau. Ketika sinar matahari mulai meredup di langit barat.
12.92
22,000
Serintil menari dan bertambang, kendang, gong, dan calung mulut mengiringinya. Rasus bersila, menepak-nepak dilutut menerukan gaya seorang pengendang.
13.2
22,000
Warta mengayunkan tangan kekiri ke kanan. Saikan ada perangkat calung dihadapannya. Darsun membusungkan kedua pipinya. Suaranya berat, menirukan bunyi gong.
12.96
22,000
Siapa yang akan percaya? Tak seorang pun pernah mengajari serintil menari dan bertambang. Siapa yang akan percaya? Belum sekalipun, serintil pernah melihat pentas ronggeng.
12.87
22,000
Ronggeng terakhir di duku paruk, mati ketika serintil masih bayi. Tetapi di depan rasus, wartah dan darsun, serintil menari dengan baiknya. Mimik penagi birahi.
14.5
22,000
yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggang yang sebenarnya juga diperbuat oleh serintil saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara serintil menggoyangkan pundak,
12.53
22,000
akan memukul laki-laki dewa sama-na pun yang melihatnya. Seorang gadis keencur seperti serintil telah mampu menirukan dengan baiknya gaya seorang ronggeng dan orang duku paruk tidak bakal heran.
14.81
22,000
Di padukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuk tubuhnya.
14.15
22,000
Indang adalah semacam wang sit yang dimuliakan di dunia peronggangan. Demikian, suara itu serintil menari dengan mata setengah tertutup. Jari tangannya melentik kenes.
13.58
22,000
Ketiga anak laki-laki yang mengiringinya, menyaksikan betapa serintil telah mampu menyanyikan banyak lagu-lagu ronggeng. Mulut rasus dan kedua temannya pegal sudah. Namun serintil terus melenggang dan melenggok.
14.25
22,000
Alunan tembangnya terus mengalir seperti pancuran di musim hujan. Betapapun, akhirnya serintil berhenti karena mulut ketiga pengiringnya bungkam. Tidak tampak tanda serintil lelah.
14.18
22,000
Bahkan kepada ketiga kawannya, serintil masih menuntut. Wah, lagi ya? Desaknya. Mengaso dulu, mulutku pegal. Jawab rasus. Iya.
13.84
22,000
Kita berhenti dulu. Kita hanya akan bermain lagi kalau serintil berjanji akan memberikami upah. Kata Warta. Baik baik. Kalian minta upah apa? Warta diam.
12.52
22,000
Rasus tersenyum sambil memandang Darsun. Kalian minta upah apa? Ulang serintil. Berkata demikian, serintil melangkah ke arah Rasus. Dekat sekali.
13.22
22,000
Tanpa bisa mengelak, Rasus menerima cium di pipi. Warta dan Darsun, masing-masing mendapat geliran kemudian. Sebelum ketiga anak-laki-laki itu sempat berbuat sesuatu. Serintil.
14.4
22,000
Menagi janji. Nah, kalian telah menerima upah. Sekarang aku menari. Kalian harus mengiring lagi. Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nangka itu.
12.57
22,000
Berlanjut sampai matahari menyentuh garis cakrawala. Sesungguhnya serintil belum hendak berhenti menari. Damun rasus berkeberatan karena ia harus menggiring tiga ekor kambingnya pulang kekandang.
13.17
22,000
Pada akhir permainan, Rasus, Warta dan Darsun minta upah. Kali ini, mereka yang berbut mencumi pipi serintil. Perawan kecil itu melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng.
13.51
22,000
Sebelum berlari pulang, serintil minta jaminan besok hari, rasus dan dua temannya akan bersedia kembali bermain bersama. Karena letak duku paruk di tengah hamparan sawah yang sangat luas, tenggelamnya matahari.
14.67
22,000
Tampak dengan jelas dari sana, angin bertiup ringan. Namun cukup meluruhkan dedaunan dari tangkainya. Gumpalan rumput kering menggelinding dan berhenti karena terhalang pematang.
13.17
22,000
Hilangnya cahaya matahari telah dinanti oleh kelelawar dan kalong. Satu-satu, mereka keluar dari sarang, di lubang-lubang kayu, ketiak daun kelapa, atau kuncup daun pisang yang masih menggulung.
14.03
22,000
Kemarau tidak disukai oleh bangsa binatang menghirap itu. Buah-buahan tidak mereka temukan, seranggapun seperti lenyap dari udara. Pada saat demikian, Kampret harus mau melalap daun waru.
14.13
22,000
agar kehidupan jenisnya lestari. Pelita-plita kecil dinyalakan, kelap kelip di kejauhan, membuktikan didukuh paruk yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong, hampir mencapai puncak langit.
14.41
22,000
Cahayanya membuat bayangan temaram di atas tenak kapur duku paruk. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemaru makin malam makin dingin.
13.09
22,000
Paglaran alam yang ramah bagi anak-anak. Halaman yang kering, sangat menyenangkan untuk arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakiraban antara manusia dengan lingkup fitriahnya. Anak-anak.
14.57
22,000
Malu kecil yang masih lugu layak hadir di halaman yang berhias cahaya bulan. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertambang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak.
14.98
22,000
adalah surga yang hanya sekali datang. Tidak. Tidak. Awal malam yang ceria itu, tidak berhias lengking anak-anak duku paruk. Kemarau terlampau panjang tahun ini.
13.67
22,000
Dua bulan terakhir, ia ada lagi padi tersimpan di rumah orang dukuh paruh. Mereka makan gaplik. Anak-anak makanasi gaplik. Karbohidrat yang terkandung dalam singkong kering itu banyak rusak.
13.84
22,000
Anak-anak tidak berbekal cukup kalori untuk bermain siang malam. Jadi, pada malam yang bening itu, tak ada anak duku paru keluar halaman. Setelah menghabiskan spiring nasi gaplik,
12.53
22,000
Mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung, tidur di atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun besok pagi bila sinar matahari menrobus celah dinding dan menyingat kulit mereka.
12.03
22,000
Orang-orang dewasa telah bekerja keras di siang hari. Tanaman musim kemarau berupa sayuran, tembakau, dan palawija harus disiram dengan air sumur yang khusus mereka gali.
12.58
22,000
Bila malam tiba, keinginan mereka tidak berlebihan. Duduk beris terahat sambil menggulung tembakau dengan daun pisang atau kulit jagung kering. Sedikit tengah malam mereka akan naik tidur.
12.4
22,000
Pada saat kemarau panjang seperti itu, mustahil ada perempuan duku paruk hamil. Menjelang tengah malam, barangkali hanya Sakarya yang masih termangu di bawah lampu minyak yang bersinar redup. Sakarya
14.16
22,000
Kami tua di padukohan terpencil itu, masih merenungi ulah cucunya sore tadi. Dengan diam-diam, Sakarya mengikuti gerak Greek Sryntil ketika cucunya itu menari di bawah pohon nangka.
13.07
22,000
Sedikit pun Sakarya tidak ragu. Serintil telah kerasukan indang ronggeng. Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan kisicamenggalah itu merasakan hambarnya dukuh paruk.
13.89
22,000
karena tidak terlahirnya seorang ronggeng di sana. Dukuh paruk tanpa ronggeng bukanlah dukuh paruk. Serintil. Cucuku sendiri akan mengbalikan citra sebenarnya pedukuhan ini.
13.49
22,000
Kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwaki secamang gala akan terbahak dikuburnya bila kelak tahu ada ronggeng didukuh paruk. Tak seorang pun menyelahkan pikiran Sakarya.
13.75
22,000
Dukuh paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat kisicamenggala. Ada seluruh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronging bersama perangkat calungnya. Gambaran tentang Dukuh Paruk
13.45
22,000
dilengkapi oleh ucapan orang luar yang senang berkata misalnya, jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang duku paruk. Atau, hai anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah.
13.5
22,000
Kaki mukda kudis seperti anak-anak duku paruk. Keseokan harinya, sekarya menemui kartar jea. Laki-laki yang hampir sebaya ini, secara turun temurun menjadi dukun rongeng di duku paruk. Pagi itu...
14.71
22,000
Kartara Jam mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon rongeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya, tersimpan di para-para di atas dapur.
12.74
22,000
Dengan adanya laporan Sakarya tentang serintil, dukun rongeng itu berharap, bunyi calong akan kembali terdengar semarak di dukuh paru. Kalau benar tutur muka.
11.65
22,000
Kita akan tetap betah tinggal di pedukuhan ini. Kata Kartaraja menanggap laporan Sakarya. Eh, sampai yang lihat sendiri nanti. Jawab Sakarya.
12.12
22,000
Serintil akan langsung menari dengan kenesnya, bilam dengar suara calungmu. Kartar jaman ngangguk-ngangguk, bibirnya yang merah kehitaman oleh kapur siri bergoyang kekiri kanan.
12.78
22,000
Lalu disemprotkan nyesisa tembakau yang tertinggal di mulutnya. Ah, Kang Sakarya, aku tak lagi diperlukan kalau begitu. Bukan Kas Rintil sudah menjadi ronging sejak lahir, kata Carter Jatawar.
14.73
22,000
Dia sedikit tersinggung. Kaliannya menghasur ronggeng merasa disepelikan. Ah, sampian salah tangkap. Maksudku, serintil benar-benar telah mendapat indang.
13.34
22,000
Masakan sampayan tidak menangkap maksudku ini. Oh begitu. Iya, dan tentu sampayan perlu memperhalus tarian serintil. Cucukku tampaknya belum pintar melimpar sampur.
12.96
22,000
Nah, ada lagi yang penting. Masalah rangkap. Tentu saja, itu urusanmu bukan? Kartar jatre kekeh. Dia merasa tidak perlu berkata apa-apa. Rangkap.
13.04
22,000
Yang dimaksud oleh Sakarya, tentulah soal guna-guna, pekasih, susuk, dan tete-bengi klienya yang akan membuat seorang ronggeng laris. Karter jadan istrinya sangat ahli dalam urusan ini.
14.63
22,000
Pokoknya, duku paruk akan kembali mempunyai ronggeng. Bukan kak begitu kan? Ah, iya, memang begitu.
8.69
22,000
Kita yang tua-tua di pedukuhan ini tak ingin mati sebelum melihat duku paru kembali seperti aslinya dulu. Bahkan aku takut arwakis cemenggala akan menolaku dikubur bila aku tidak melestarikan ronggeng di pedukuhan ini.
14.43
22,000
Bukan hanya itu, Kang. Bukan Karong Gang bisa membuat kita betah hidup. Ha ha ha ha ha ha ha. Kedua kake itu tertawa bersama. Di antaragelaknya...
11.75
22,000
End of preview. Expand in Data Studio

🎡 Dataset Audio Bahasa Indonesia

Dataset audio berkualitas tinggi untuk Text-to-Speech (TTS) bahasa Indonesia.

Dibuat oleh :
Muhammad Arief, S.Kom.
Universitas Muhammadiyah Sorong
Teknik Informatika 2020

πŸ“Š Spesifikasi Teknis

Parameter Nilai Satuan
Total Durasi 16.38 jam
Jumlah Segmen 4531 file
Durasi Rata-rata 13.01 detik
Sample Rate KHz 22 kHz
Sample Rate Hz 22000 Hz
Bit Depth PCM_16 PCM
Format wav Lossless

πŸ”„ Urutan Pengolahan Data

  1. πŸ“ File Loading - Mengumpulkan file audio
  2. πŸ” RMS Analysis - Analisis Root Mean Square untuk deteksi silence
  3. πŸŽ›οΈ RVC Algorithm - Penerapan algoritma RVC untuk segmentasi audio
  4. βœ‚οΈ Auto Slicing - Pemotongan otomatis berdasarkan threshold silence
  5. πŸ”„ Duration Optimization - Penyesuaian panjang segment ke rata-rata optimal
  6. πŸ” Audio Resampling - Konversi sample rate ke 22kHz (standar)
  7. πŸ€– Whisper AI - Transkripsi menggunakan model Whisper
  8. πŸ“Š Metadata Assembly - Penyusunan metadata dan transkripsi
  9. πŸ€— Dataset Conversion - Konversi ke format Hugging Face Dataset
  10. πŸ“€ Cloud Deployment - Upload ke Hugging Face Hub

Tahun pembuatan: 2026

βš–οΈ Etika & Lisensi

  • Lisensi: MIT
  • Tidak mengandung data pribadi
  • Proses terstandarisasi & reproducible

Dataset Name: X-lord/Dataset-Text-To-Speech-Indonesia Created: 2026-01-11 19:38:08

Downloads last month
161