Dataset Viewer
Auto-converted to Parquet Duplicate
audio
audioduration (s)
3.56
30
text
stringlengths
78
591
source
stringclasses
1 value
Kadang -kadang cara terbaik untuk bisa sampai di titik tertentu adalah dengan menempatkan dirimu pada posisi yang kamu gak punya opsi lain untuk melakukan yang lain gitu. Kita meyakini bahwa itu benar, tapi kita gak berani mengatakan itu benar, Bil. Kita tahu mana yang sebetulnya tepat, tapi bahkan untuk memperjuangkan itu aja kita gak berani. Orang pertama dan terakhir yang harus percaya pada diri kita, ya diri kita. Bukan lagi orang tua.
0
Mungkin lewat podcast ini Sally pengen sekaligus menyampaikan perempuan itu mau gak mau, mau di timur maupun di barat ternyata sama, adalah sekolah pertama bagi anak -anaknya. Kualitas kita ditentukan berdasarkan respon apa yang kita berikan. Jangan pernah takut gagal, jangan pernah takut disalahpahami. Karena orang yang gak pernah gagal, orang yang gak pernah disalahpahami oleh orang, itu tanda mereka gak pernah berjuang dalam hidup. Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas.
0
Hari ini aku kedatangan tamu spesial, wanita yang menurut aku sangat inspiratif, yang datang jauh -jauh dari ujung barat Sumatera, dari Aceh juga. Iya sama -sama lagi ya. Sama dari Aceh kita ya. Welcome to the show, Mbak Shirley Anavita. Wah, thank you Bill kesempatannya. Ini bikin deg -degan sih masuk sini Bill. Iya, interogasi. Iya, kursi panas ya. Kita akan mengupas tuntas ya.
0
Karena, kenapa aku ajak Mbak Shirley disini, bagi teman -teman yang nonton ini, aku sarankan turun untuk spesial saya, karena dia adalah sosok yang menurut aku, penggerak perempuan yang inspiratif, dan konsisten untuk mengedukasi teman -teman di luar sana, apakah tentang isu -isu terkini, atau tentang edukasi di Indonesia. Jadi, aku senang banget untuk kita ngobrol, sama satu jam ke depan, Mbak Shirley. Semoga ya, amin. Tapi kita pertama, dan ini pertemuan kedua kita kan ya. Ya, sebelumnya kita pernah ketemu. Ya.
0
Tapi, ngomong seriusnya di episode sekarang. Di sekarang ya. Sebelumnya gak serius ya. Ya, santai -santai. Di luar kamera ya. Betul -betul. Tapi, terlepas dari, di depan kamera, di balik kamera, aku ngelihat sosok Mbak Shirley ini, ada sisi confidence -nya sebagai wanita ya. Aku penasaran, apakah itu dibentuk, atau emang terlahir sejak lama? Kepercayaan diri itu.
0
Kalau confidence, aku pribadi percaya bahwa itu, itu ada part yang dibentuk, ada yang, ini dibentuk sih, Bill. Kalau ditanya, apakah Shirley dari kecil itu percaya diri, ada rasa -rasa gak percaya dirinya sebetulnya. Shirley ingat waktu TK. TK itu usia 4 atau 5 tahun ya. Iya. Jadi, Shirley pengen, ikut satu lomba lah, intinya begitu.
0
Dan, justru orang tua, yang gak yakin bahwa, emang iya kamu mau ikut? Gitu. Tapi, yaudah, kalau Shirley udah yakin, yakin. Jadi, ada part yang Shirley pikir, memang setiap orang itu cukup confidence, sampai ada titik, dimana, mungkin lingkungan yang mematahkan. Nah, ada juga, tipikal orang yang dibentuk. Nah, long story short, akhirnya dari situ, Shirley belajar bahwa, orang pertama dan terakhir, yang harus percaya pada diri kita, ya diri kita.
0
Bukan lagi orang tua, bukan lagi mungkin, mungkin ada orang yang beruntung, dikelilingi oleh orang -orang yang, fair gitu ya, yang supportive, benar -benar, salah -salah, gak niko -niko. Tapi, sekalipun kita, gak dikelilingi sama orang -orang kayak gitu, tetap jadi tanggung jawab kita, untuk yakin dengan apa yang, kita targetkan, cita -citakan.
0
Maka, confident itu juga gitu sih, Bil, menurut Sally. Nah, mungkin sampai usia -usia tertentu, orang tua punya, andil lah ya, sampai usia, anak misalnya, sebutlah, sampai 14 tahun, 15 tahun, tapi setelah itu, bagaimana kita menempatkan diri, di lingkungan, bagaimana kita menaruh, mindset kita sendiri, itu menurut Sally penting.
0
Nah, Sally berasal dari daerah, Bil, tadi kan Bilal udah sampaikan, dan Sally harus, harus akui bahwa, ada gap memang, yang terbentuk, dalam mindset, anak daerah, Sally bukan bilang, bahwa anak daerah itu, kemudian gak pede, enggak ya Bil, tapi, sama -sama punya skill, dan kapabilitas, yang boleh jadi, baik, sama baiknya, cuma mindsetnya, udah terbentuk bahwa, wah, kita tidak cukup beruntung, wah, kita tidak cukup dekat, dengan akses informasi, dan seterusnya.
0
Nah, gap ini yang belakangan, saya risadari, dengan adanya, IOT, dengan kita masuk, industri 5 .0, itu menurut Sally, mulai borderless sih, udah mulai memberikan, akses juga kepada, dalam tanda kutip, anak -anak daerah, untuk bisa, akselerasi, ke titik yang mereka inginkan. The confidence loop ya, semakin sering kita, melatih, keraguan diri, semakin kita, bisa menghadapi, fase -fase kita, insecure dan lain, semakin terbiasa juga.
0
True, tapi, ini mungkin ada yang setuju, ada yang tidak setuju, habisnya Bil. Tapi, saya nih kok, makin kesini, makin merasa, dulu hipotasis, kalau sekarang udah jadi kesimpulan Bil, bahwa, inferiority kompleks itu, kan mulainya dari mindset ya, itu tuh secara gak langsung diturunkan, dari satu lembaga informal, yang kita sebut sebagai keluarga.
0
Mungkin kita gak sadar, tapi cara kita diperlakukan, di masa -masa, sebutlah mungkin, tujuh tahun pertama kehidupan kita, atau mungkin, empat belas tahun pertama kehidupan kita, kan kita gak bisa diminta pada Tuhan. Ya Tuhan, aku mau lahir di, wilayah A misalnya, kita gak bisa minta. Nah, bagaimana itu dibentuk, secara turun temurun, itu membentuk cara kita berpikir. Dan, lembaga informal pertama, yang membentuk, mindset kita adalah, keluarga.
0
Dan, perempuan dalam hal ini, mungkin lewat podcast ini, saya pengen sekaligus menyampaikan, perempuan itu, mau gak mau, mau di timur, maupun di barat, ternyata sama, adalah, sekolah pertama bagi anak -anaknya. Jadi, sebelum akhirnya mindset itu diturunkan, nantinya kepada anak, maka, kita dulu yang harus percaya pada diri kita. Gelas kita dulu yang diisi, baru kemudian kita bisa poor, kita bisa menuangkan isiklas kita, ke lingkungan, atau mungkin ke anak kita, ke keluarga kita.
0
Maka, ini tugas kita, para perempuan, untuk, hari ini, berani selesai dengan diri sendiri. Berani ngeliat, sebetulnya, kita punya trauma apa sih, di masa lalu, yang ngebuat kita mungkin jadi gak vd. Kita punya, potensi apa sih, yang harus kita, coba, bongkar dalam diri. Mungkin selama ini, kitanya aja, yang gak berani keluar dari zona nyaman, atau kita aja yang merespon masalah, dengan cara yang kita terbiasa dengan itu.
0
Padahal, sebetulnya bukan itu cara terbaik. Makanya, ada satu quote, sebetulnya, kayak dua minggu yang lalu sih, Bil, salah seorang teman, itu mengingatkan Sherly, bahwa, kurang lebih, quote -nya bunyinya kayak gini, kadang -kadang, cara terbaik, untuk bisa sampai di titik tertentu adalah, dengan menempatkan dirimu, pada posisi yang, kamu gak punya opsi lain, untuk melakukan, yang lain gitu. Nah, kalau kita kadang -kadang, perempuan kan dominannya perasaan kan, maksudnya ini bukan, bukan kemudian, wah, perempuan dibedah -bedah, enggak.
0
Tapi memang fitrahnya, perempuan itu dominannya perasaan, laki -laki itu logika. Sehingga ketika, perempuan terlalu bergantung, atau rely on mood, perasaan, akhirnya, kita cenderung, bukan bergerak berdasarkan kebutuhan, tapi apa yang kita inginkan. Padahal, situasi dan kondisinya, mengharuskan kita untuk bergerak berdasarkan, yang dibutuhin apa. Bukan apa yang kita inginkan.
0
Nah, bisa jadi ya, akhirnya, Tuhan naruh kita di posisi yang, udahlah Sher, kamu kalau dibiarin terus bergerak berdasarkan keinginan, lama banget nih sampe -nya. Akhirnya, ditaruh di posisi yang, mau enggak mau, suka enggak suka, siap enggak siap, hadapi. Nah, akhirnya saya refleksi ke diri sendiri, ya bisa jadi itu, cara kita akhirnya untuk, crack the border. Untuk, berat sih, tapi, ya emang harus retak dulu, baru cahaya bisa masuk kan, Phil.
0
Harus retak dulu dan, ya boleh jadi pecah, boleh jadi sakit, boleh jadi, kok gini sih Tuhan? Kok enggak sesuai sama ekspektasi sih Tuhan?
0
Tapi di fase, Mbak Sherly itu pernah, retak, retak, retak, itu di titik mana, atau turning point, dimananya, yang kemudian, melihat bahwa retak itu, bukan berarti, bocor atau airnya itu, malah, ngerembes, tapi, retak dari versi, oke cahaya ini, ternyata, lebih terang dari gue, gue pikirakan gitu, di titik mana gitu.
0
Fasenya, berkali -kali sih Bill, jadi menurut Sherly, gak ada yang, satu fase menyelesaikan semuanya, mungkin awalnya, fasenya, mungkin teman -teman juga, mungkin di awal -awal 14 tahun, kita sempat retak. Sherly pribadi, kalau ditanya, dulu tuh adalah orang yang, yang gak, ranking juga gak apa -apa Bill, yaudah biasa, jadi manusia biasa -biasa aja deh, emang harus berprestasi kayak gitu.
0
Syarat dari orang tua adalah, yang penting kamu bukan, paling, akhir, jadi kalau di kelas ada 30 orang, yang penting kamu bukan, yang paling akhir ya nak. Bill 30. Serius. Serius. Terus orang tua kamu, biasa -biasa aja. Gak biasa -biasa aja dong. Iya. Oke. Ke sekolah pakai masker, kalau ambil rapor ya. Malu ya. Nah kalau orang tua saya ini, gak ada pressure.
0
Gak apa -apa, terserah kamu mau main, yang penting, jangan yang paling terakhir ya, karena mungkin ada cita -cita kamu, yang nanti mau kamu kejar, jadi ya mungkin, di tengah gak apa -apa, kayak gitu. Jadi, kamu masih sedikit memberikan, pintu lah, untuk dirimu sendiri, kalau kamu nanti mau mengejar itu. Sampai karena ada titik, cracking pertama, itu di usia, 13 tahun mungkin, mungkin di usia -usia, di mana kita tuh, butuh validasi dari, kawan kali ya Bill.
0
itu adalah fase, di mana, di mana, di mana, di mana, di mana, di mana, di mana, di mana, di mana, di mana, mungkin teknis sih, tapi karena terlambat, mendaftar sekolah, jadi, di mana, terlempar ke kelas yang paling ujung. Jadi, kalau ada 1 sampai 10 ya, di 10 -nya, di lokal, atau kelas yang paling terakhir. Nah, long story short, dari situ, Sally pikir, kok gak enak ya, dijauhin. Orang tua bilang, Sally udah minta pindah sekolah dong, boleh gak, udah gak enak, dijauhin sama kawan -kawan, udah mulai ada, kayak grup -grup gitu.
0
Ada 1 kali pun ada orang tua yang, setidaknya sampai hari ini ya, ketemu sama kamu Bill, masih Sally pegang, bahwa, kalau kamu ngeliat ada masalah, ada hal yang gak benar, maka hadapi, bukan, malah pergi. Dan kalau Tuhan nyuruhnya, Tuhan menghadapkan itu pada kamu, berarti kamu yang dianggap bisa oleh Tuhan.
0
Kamu mau diwarnai dengan lingkunganmu, atau kamu yang justru mengwarnai lingkunganmu, karena kan tadi tuh yang kelasnya yang paling ujung. Jadi, jadi mulai terbiasa nih, dengan kebiasaannya, malas, kayak, yaudah, segitu juga cukup, kayak gitu loh Bill. Jadi, standarnya mulai lowering, mulai menurun. Itu akhirnya, Sally menetapkan target, oke, yang kelas inti lah gitu ya, kelas inti, itu rata -ratanya berapa, juara satunya misalnya berapa, mulai jiwa kompetitifnya, baru mulai disitu.
0
Kalau gak ada di, average -nya misalnya adalah, 8 ,5 atau 9, maka akhirnya Sally menetapkan, ke diri Sally sendiri, standar kamu gak boleh ada nilai di bawah itu, gak boleh ada nilai di bawah 8 ,5, maka rata -rata harus gitu. Nah, akhirnya disitu, kelihatan di semester pertama, ternyata, kok ada nih anak dari ujung, yang paling ujung, rata -ratanya bahkan, setara dengan juara satu, di kelas inti tadi. Itu kayak aneh gitu, itu anomali.
0
Dari situ akhirnya, mulai naik lah, teman -teman yang dianggap, dianggap ujung gitu, akhirnya mulai naik, dan, dari situ, Sally makin sadar bahwa, ya pilihannya cuma dua, kamu yang diwarnai, atau kamu yang mewarnai. Gak ada masalah, kamu misalnya ditaruh di tempat yang, mungkin kamu gak, mungkin awalnya gak suka, atau kok gini sih Tuhan, ya boleh jadi kamu, mengira kamu dikubur, padahal sedang ditanam oleh Tuhan. Kubur dan tanam, itu adalah dua hal, yang outputnya akan berbeda.
0
Tergantung kita melihat diri kita, atau mindset kita, kayak gimana, kalau dikubur kan selesai ya. Kalau ditanam adalah proses kita untuk, menyiapkan diri, menguatkan akar -akar, sampai, kalau udah kuat, baru muncul, batang, daun, berbuah, di sebagian tanaman ya, sebagian besar tanaman. Karena ada, ada juga yang mungkin, mulainya gak dari situ.
0
Tapi intinya adalah, itu cracking pertama, Sherly, dilanjutkan kemudian, ya baru di tahun selanjutnya, ada lagi cracking kedua adalah, masa -masa SMA mau lanjut kuliah, tapi, berhadapan dengan situasi finansial, atau ekonomi orang tua, yang, sepertinya, tidak sedang baik -baik saja lah, Bil, itu yang kedua. Dan yang ketiga itu adalah, ketika, merantau, merantau, agak lama ya, kalau merantau tiga bulan, mungkin sudah dimulai, ketika 14 tahun.
0
Itu, ketika awalnya di Jogja, kemudian ke Jakarta. Jadi, benar -benar, merasa berbeda banget, lingkungannya, dan Sherly merasa kayak, ya aku udah, udah kelah deh, kayaknya aku udah selesai deh. Dan, di tahun keduanya, akhirnya Sherly, kayak ditampar keras oleh, seorang mentor, yang, ngingetin, kamu ikut kegiatan banyak, kamu ikut, organisasi banyak, kamu bikin sosial project, A, B, dan C, itu tuh sibuk, bukan produktif.
0
Awalnya Sherly gak terima, Bil, dibilang kayak gitu. Namanya anak muda kan? Ego 20 -an. Di antara kawan -kawan saya kan, justru saya yang paling aktif, mau menyelesain A, B, dan C. Saya tuh ditantang dengan, empat pertanyaan. Yang empat pertanyaan itulah, yang Sherly kupas di buku, bisa dibilang itu buku pertama lah. Buku pertama yang, Sherly keluarkan, judulnya Mencari Inti Sari.
0
Maka anak muda, fokus aja pada hal -hal inti dalam hidup, apalagi di era yang sekarang, distraksinya luar biasa, tsunami informasi di mana -mana, yuk kita fokus aja pada hal -hal inti, yang Sherly rangkum, dalam empat pertanyaan itu. Yang Sherly gagal, Bil, 10 tahun yang lalu menjawabnya. Nah, salah satu pertanyaannya adalah, kamu tuh siapa 10 tahun lagi? What's the goal? What's the target?
0
Kalau target kamu adalah, seorang akademisi, kamu gak harus melakukan, hal -hal yang sebetulnya, gak mengantarkan kamu ke sana, atau bukan prioritas utama, skill, menuju ke sana. Karena di antara banyak skill, kamu gak harus menguasai semuanya sendiri. Benar. This is not one man show, gitu. Di antara semua buku, kamu gak harus baca semua buku itu juga. Di antara banyak podcast, kamu gak harus melesaikan semua podcast. Kalau ruang, kalau suara berkelas, harus diselesaikan ya Bil ya. Iya, thank you Pak. Saya gak suruh padahal.
0
Ya, maksud Charlie adalah, pertanyaan itu, Charlie gagal menjawabnya. Dulu Charlie pikir, jawabannya profesi, saya mau jadi duta besar, makanya saya ngambil jurusan ini, hubungan internasional. Terus ditanya, kenapa kamu mau jadi duta besar? What's the point? What's beyond it? Apa di belakang profesi itu yang kamu kejar? Ditanya, digali terus, sampai akhirnya jawaban kelima dari why itu, itu ternyata sesuatu yang dekat. Sesuatu yang, yang gak neko -neko.
0
Ditutup dengan pertanyaan, kalau 10 tahun lagi, tentu akan banyak yang berubah kan. Kalau sekarang kita di 2025, 10 tahun lagi, 2035, banyak hal akan berubah. Benar. Right? AI yang kita hadapi sekarang, yang kita nikmati sekarang, itu masih bayinya AI. Right? 10 tahun lagi kita, wah dihadapkan dengan teknologi yang, yang luar biasa, canggih menurut Charlie. Iya.
0
Pertanyaan beliau adalah, kalau profesi -profesi baru muncul, ternyata memfasilitasi kamu, untuk menjalankan, why kelima kamu, kamu siap gak? Agile, beradaptasi dengan, semua perkembangan yang nanti. Itu Charlie gak bisa jawab, butuh waktu agak lama untuk nanya. Dan, beberapa teman bertanya belakangan, share ini yang kamu pikirkan, 10 tahun yang lalu gak? Saya harus jujur bilang, iya. Wow. Wow.
0
Tapi Charlie gak tau kan, akan ada, ruang -ruang berbagi, yang borderless kayak gini. Iya. Badan kita boleh di Indonesia build, tapi, perkembangan di Timur Tengah, Eropa, Afrika, Amerika, just one click, we can connect to a thousand of people now. Iya. Ya mungkin 10 tahun yang lalu, kita gak kepikiran. Itu pertanyaan pertama. Nah jadi, empat pertanyaan itu adalah, cracking ketiga, Charlie, untuk mulai, hidup lo mau kemana sih, Sher, sebetulnya?
0
Ini nih, keinginan orang tua, yang gak selesai di masa muda, kalaupun iya gak apa -apa juga, tapi lo mau gak sih, bertanggung jawab sampai akhir, karena at the end, this is not about your parents, this is about you and yourself. Karena pertanyaan keempat adalah, kamu mau ninggalin apa, untuk generasi sesudahmu? Karena ya, kamu ada masanya, ser, dan setiap masa nanti, akan ada orangnya. Terus kamu mau ninggalin apa?
0
Nah itu akhirnya, ngebuat Sherly jadi, yaudah fokus aja, pada hal -hal yang mungkin, itu adalah, kelebihan atau potensi, yang boleh jadi Tuhan titipkan, yang butuh untuk dimaksimalkan. Nah, cracking selanjutnya adalah, akhirnya, Sherly berangkat, setelah selesai S1, berangkat S2, Bill, terus pas pulang, itu cracking Sherly, yang Sherly pikir, mengubah banyak hal. sampai sekarang, kurang lebih 5 tahun, apa 6 tahun yang lalu, 2019.
0
Iya, itu, relatability sih, maksudnya, banyak orang di luar sana, yang lagi di fase gelap, terus ketika melihat, secara cahaya gini, kayak, oh oke, there is a way out, atau cahaya yang, besar ternyata, dan dia juga bisa, melewati fase itu, kenapa aku, tidak bisa gitu ya.
0
Dari POV di PRnya gak terima, kenapa sih lu protes, gua kerjanya keras? Show! Tunjukin, lu kerja apa aja, hasilnya apa gitu. Lu sadar gak tadi lu ngomongin itu sangat -sangat energi kayak, wah lu selama ini nahan untuk tidak ngomong lalu lu ngapas sendiri. Keliatan banget. Karena ini sesuatu yang aku sering bikin sendiri gitu. Manusia itu beradaptasi. Membuat kebijakan itu adalah orang -orang yang, ternyata kutip bagi -bagi kursi, atau bukan orang yang sebenarnya kompeten. Gak akan. Tapi aku ngeliat masyarakat makin pintar.
0
Bener. Which is good. Yup, which is good. It's very good. Semakin kritis. Semakin kritis, dan itu harus. Bahaya terbesar bagi manusia, itu bukan mereka bermimpi terlalu tinggi dan mereka gagal. Tapi ketika mereka bermimpi terlalu rendah, dan mereka berhasil. Wow. Sangat susah di posisi aku. Karena... Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas.
0
Hari ini, aku kedatangan tamu berkelas. Ini orang sebenarnya udah aku kenal dari 2018. Dan hari ini kita ketemu lagi setelah 7 tahun berlalu. Welcome to the show, Jerome Pauline. Terima kasih Bilal. Halo semuanya. Luar biasa. Aku Jerome Pauline. Konnichiwa. Konnichiwa. Nihonggu Hanasimaska. Mada Hanasimashiwa. Ini gak harus serius gitu kan? Atau serius ya? Enggak lah, santai -santai. Santai aja kan? Santai -santai. Oke.
0
Lu harus jadi diri lu sendiri disini. Siap. Gak, bercanda -bercanda. Gak gitu juga dong. Soalnya, ini disclaimer ya. Soalnya, sebelum aku lihat kesini tuh, aku kan lihat podcast -podcast Suara Berkelas itu kan, klip -klipnya tuh benar -benar serius -serius semua kan? Iya. Motifasional dan sebagainya. Jadi aku kayak, oh berarti aku harus membawa diriku yang versi yang serius gitu. Iya. Kalo lu kenal gua sebenernya, gua dibalik layar juga receh kan? Iya. Jadi gua disini tetap jadilah host yang berkelas gitu ya.
0
Iya, bila tuh kayak... Oke, Jer. Oke, oke. Terus. Mungkin di mata orang lain, atau lebih tepatnya ketika aku kenal Jerome dari 2012 -2018 ya. Itu emangnya orangnya enerjik banget. Kayak terlalu kesan happy. Lu semangat. Dan lu selalu ada kayak ceritain mimpi ke orang lain gitu ya, manifestasi. Dari luar lu terkesan orang yang mungkin terkesan nih, orang kayaknya gak ada insecure -nya gitu. Tapi, boleh gak?
0
Gua tahu dibalik itu, ada gak fase tujuh tahun dalam waktu kita gak pernah ketemu ini? Prinsip dulu yang berubah gitu. Berjalan waktu. Prinsip hidup yang berubah. Prinsip hidup, mungkin gak berubah ya. Tapi, aku tuh lebih sadar banyak hal gitu. Dulu aku tuh tipe orang yang perfeksionis banget. Aku tumbuh di lingkungan yang dimana, aku di sekolah, karena aku rajin.
0
Dan mungkin guruku melihat aku orang pintar. Jadi aku di kelompokin sama orang -orang yang males -malesan. Ya akhirnya, daripada aku kasih tugas kelompok ke mereka, mendingan aku kerja sendiri semuanya. Jadi aku tumbuh di lingkungan yang selalu aku kerja semua sendirian. Jadi, sangat susah untuk aku kasih kerjaan ke orang lain. Pada saat aku di Youtube yang 2019 -2019 itu, itu aku kerja semua sendiri bro. Ya aku tahu.
0
Iya kan, bikin thumbnailnya sendiri dan sebagainya gitu. Even lu ketika di kereta juga ngerjain itu kan. Iya, karena aku susah banget buat aku kasih tugas ke orang lain. Atau delegasiin tugas ke orang lain gitu. Tapi, selama 7 tahun ini, aku belajar banyak sih untuk mendelegasikan tugas gitu. Dan ternyata, dengan kita punya tim, atau kita kerja sama -sama orang, 1 tambah 1 itu bukan jadi 2 gitu, tapi jadi 5 gitu.
0
Jadi, ketika kita bisa mendelegasikan tugas, dan ya bikin tim, itu sangat powerful sih. Jadi sekarang, aku udah banyak banget yang aku delegasiin ke tim aku gitu. Berapa orang yang sekarang hire? Wah, tim udah banyak banget sih. Kalau dari perusahaan sendiri, udah 40 orang lebih. Wow. Untuk yang Mantapu Corp, ada legal, ada finance dan sebagainya. Wow. Untuk editing sendiri, aku udah gak ngedit sekarang. Udah jarang banget ngedit. Gak sempat juga sih. Gak sempat juga benar.
0
Terus, untuk di, apa, perusahaan terbaru aku, Mantapu Academy. Ya, Bimel Mantapu Matika juga, udah ada 15 orang gitu. Wow. Jadi, ya itu sih mungkin yang berubah banget ya. Jerome 2018, sangat perfectionist, tapi kita harus tahu, kalau perfectionist, stagnation. semakin lu ngerasa, gua harus yang, cuma gua yang bisa bikin ini yang terbaik, padahal itu menghambat ya. Waktu lu akan terbual banyak banget di sana. Bener.
0
Titik delegasi, pertama kali seorang Jerome, itu kapan? Kayak lu berani untuk, gua percaya editor baru, siapapun yang udah luasin. Di 2019 mungkin ya, 2018, 2019. 2019 menuju 2019. Itu, coba editor satu, terus, coba mulai kakak aku yang manage aku gitu. Dulu aku masih ngurus sama sendiri loh. Kayak, partnership. Balesin DM sendiri. Balesin DM, partnership itu aku sendiri Mas Ian. Sekarang bahkan, timku, pegang Instagramku.
0
Jadi nge -post -nge -post tuh bukan aku juga. Berarti yang bales DM gua tadi orang gitu ya? Enggak, kalau itu aku. Jadi hal -hal yang bener -bener personal, yang bener -bener, gak bisa gak aku, itu tetap aku. Tapi untuk hal -hal yang bisa didelegasikan, aku berusaha untuk delegasiin. Begitu sih. Ada gak tamparan realita di kehidupan yang kayak, ya sakit banget ketika nampar seorang Jerome gitu. Di fase lu, transisi 20 -an awal sampai sekarang. Wah, ada sih mungkin ya.
0
Tamparan mungkin gini, aku itu grow, atau tumbuh, dengan merasa kalau ide aku itu selalu bagus. Oke. Dan apa yang aku pikir itu pasti, yang paling bener. Pasti works ini. Ini pasti gitu. Karena memang kita harus seperti itu kan, yang pede gitu. Tapi, tamparannya adalah ketika ternyata, kita eksekusi video, atau eksekusi satu bisnis, atau ide kita, ternyata gak sesuai spesial itu. Iya.
0
Dan itu yang bikin aku jadi, yaudah jadi gak over tinggi malahan tapi. Jadi yaudah coba aja terus gitu. Contohnya ketika aku pertama kali bangun Mantapu Academy. Dulu, setiap kali aku bikin konten, satu juta views. upload video Instagram, likesnya jutaan. Waktu itu aku pertama kali bikin bisnis menanti, langsung dalam 3 bulan 100 toko. Wow, pokoknya eksplosif gitu. Jadi aku terbiasa, dengan hal -hal seperti itu gitu.
0
Nah, aku bikin Mantapu Academy, aku punya idealisme kan. Oke, aku mau bikin satu program. Program ini program baru, yang belum ada di Indonesia. Dan aku mau bikinnya offline. Gak ada online. Gitu. Oke. Dan setelah dihitung -hitung, aku butuh sekitar 100 lebih murid, untuk bisa menutup expense gitu. Tapi pede -pede aja dong. Ya. Aku udah beli ruko, bukan beli, sewa ruko. Sewa ruko.
0
Renov udah habis M. Terus, pas marketing, pas launching, bro, cuma 20 orang yang daftar. Cuma 20 orang yang daftar. Terus aku kayak, lah, padahal ini program bagus banget ini. Oke. Ini program bagus banget. Wah ini kok, gak, gak, gak works ya. Oh mungkin marketing gue kurang gitu kan. Aku ke sekolah -sekolah, aku bagiin brosur lu. Lu turun langsung ya? Lu turun langsung. Dan itu hal yang, mungkin memalukan lah ya. Bagi -bagi brosur. Ya.
0
Terus aku ke mall, bagi brosur di mall, ngajak -ngajak orang gitu. Tapi akhirnya, cuma 30 orang. Dan dari situ tuh, sangat -sangat tertampal realita, bahwa ternyata, apa yang, aku bikin, apa yang aku pikirin bakal works, belum tentu works. Hmm. Sebenernya aku udah belajar itu di konten. Dulu, dulu banget. Ya kan? Tapi kalau dulu kan, kayak aku bukan, masih belum siapa -siapa. Hmm. Sekarang? Yang sekarang kan, udah lumayan dikenal. Dikenal banget.
0
Jadi ketika, ketika aku bikin sesuatu yang, itu bahkan itu branding aku, math, kayak apa ya, kayak ngajarin matematika, harusnya banyak orang dong yang join. Itu kan, pikirnya seperti itu. Jadi, pas ditampaknya Rita kayak gitu, akhirnya aku shifting terus. Untungnya, bisa ada. Kayak, baca market. Oh mereka maunya kayak gimana? Oh ternyata mereka maunya, bimbel, atau belajar sesuai dengan, kebutuhan mereka. Bukan, bukan program aku gitu.
0
Tapi, ya seperti bimbel pada umumnya. Ya udah aku bikin. Coba bikin, terus bikinnya online juga. Itu bener -bener, sambil jalan, sambil belajar gitu. Hmm. Dan itu, mungkin skill terpenting yang, harus dimiliki setiap kita ya. Ya. Adaptasi. Dan gak boleh, iya, gak boleh, gak boleh terlalu idealis sih menurut aku. Wah aku juga ketampar sih itu. Iya. Tadi kita udah ngomongin perfeksionis, kita ngomongin idealis. Jadi harus lebih realistis menurut aku.
0
Cara, kita, mengubah mindset, atau shifting mindset dari, idealis, perfeksionis tadi, gimana cara simpel ya. Karena aku yakin nonton ini juga, pernah di fase itu. Apalagi awal -awal 20 -an. Ego kita tinggi banget. Iya, ego tinggi. Gak ada cara simpel sih bro. I learned it the hard way gitu. Maksudnya aku benar -benar belajar, ya, aku udah 9 tahun di dunia content creating, dan, ya aku masih terus belajar gitu, sampai hari ini kan. Jadi sebenernya gak ada, gak ada cara instannya gitu.
0
Tapi, step pertama ya, percaya sama orang lain gitu. Coba, coba minta pendapat orang lain gitu. Step pertama. Step pertama dalam mikir, kita itu gak, gak yang paling jago kok. Itu egonya kena banget tapi. Bener, ego kena banget. Kayak, aku gak paling jago, aku gak paling bener, aku gak paling pintar. Ada orang lebih pintar daripada aku, ada orang lebih bagus daripada aku, dan sebagainya, mengakui itu dulu gitu, di awal. Mengakui itu, bukan berarti lu merasa bodoh kan. Bukan.
0
Tapi lu tahu ada orang lebih bagus dan, akhirnya lu bisa percaya sama orang gitu. Dan kerjasama. Dan kerjasama. Yap. Dan akhirnya satu sama satu sama dengan 5. Yap, satu sama satu sama dengan 5. Yes. Ternyata ada orang nge -clip satu sama satu sama dengan 5. Di clip itu doang ya. Di clip itu doang ya. Ada konteksnya teman -teman ya. Konteksnya itu, dalam bisnis atau dalam pekerjaan gitu. Itu bukan matematika yang gak bisa dihitung. Yap. Gitu sih.
0
Mungkin kalau gua ngelihat dari sudut pandang luar, emang Jerome itu selalu dikelilingi oleh orang -orang yang supportive gitu. Mungkin lu punya privilege itu gitu. Tapi ada gak fase sebenarnya yang lu ngerasa kayak kesepian, atau lu di titik udah overthinking banget sama kehidupan ini, meskipun lu surrounded by supportive people. Hmm.
0
Kalau, perasaan kesepian itu, itu aku rasain, itu mungkin kuartal life crisis aku juga ya gitu. Itu salah satu masalah yang aku bener -bener rasain, ketika aku pulang dari Jepang. Ketika pulang, which is di tahun? 2022, ketika gini, ketika pulang dari Jepang, terus aku harus stay di Indonesia, dan udah gak ketemu lagi sama teman -teman aku. Itu 2024 berarti. Iya baru. Baru banget. Baru -baru ini.
0
Jadi ketika aku pulang dari Indonesia, 2022, aku sempat ada merasa kesepian itu, karena semua temanku di Jepang. Jadi selama lima setahun tahun aku kuliah di Jepang, semua keluarga dan semua teman -teman aku di Jepang semua. Dan ketika aku harus balik ke Indonesia, itu kayak reset dari nol gitu. Sedangkan teman -teman aku yang dulu SMA, SMP juga udah sibuk masing -masing kan. Jadi kayak ngulang lagi dari awal building friends. Dan ini bukan berarti sombong tapi ya.
0
Tapi sangat susah di posisi aku. Karena kenal sama orang, itu aku udah gak tau motifnya apa. Gitu. Wow. Iya. Itu deep banget. Udah gak tau motifnya apa. Dan aku berkali -kali ngerasaan itu, sampai akhirnya aku takut untuk berteman. Jujur. Jadi kayak kenalan, terus tiba -tiba ngajak bisnis. Ngomongin bisnis, kan udah langsung rusak pertemanannya. Benar. Langsung kayak hubungannya transaksional nih, bisnis gitu. Benar.
0
Akhirnya aku gak mau ketemu lagi. Atau aku kayak takut untuk ketemu, kayak aduh nanti dibahas bisnis nih gitu. Aduh nanti aku di approach nih. Kan gak enak bro. Ya kan. Jadi, aku gak tau ya itu antara adulting, atau memang ya aku aja gitu. Ya. Jadi ketika 2024 sampai 2025 ini ya masih struggling. Bahkan, salah satu resolusi aku di tahun baru ini, adalah aku mau berteman bro. Salah satu resolusi aku. Resolusi 2025. Ya.
0
Jadi kayak aku actively mencari teman dan, ya connecting to people gitu. Yang bener -bener berteman, bukan yang ada kerjaan gitu. Karena aku pas akhir tahun baru, kayak mikir kan. Dan juga ditanya sama temanku, kamu punya gak sih teman yang gak ada hubungan kerjaan gitu. Teman aja beneran teman gitu. Aku mikir -mikir gak ada sih kayak, di Indonesia kayaknya semua. Really? Sampai sekarang hitungannya gak ada. Aku kenal banyak orang. Berhubungan baik dengan banyak orang. Iya kan.
0
Ya kan. Tapi untuk teman, jadi kalau misalnya aku kayak, disuruh bikin birthday party gitu kan. atau ngundang siapa itu aku mikir, siapa ya gitu kan. Kayak, terus aku gak misalnya curhat -curhat yang, masalah yang berat atau apa. Aku bingung juga ke siapa, selain keluarga gitu. Yang itu dulu aku dapetin semua itu di Jepang. Sekarang di Indonesia, belum. Ya mungkin, orang -orang terdekat aku adalah tim aku. Tapi itu kan, kerjaan sebenarnya ya. Iya.
0
Cuma ya, aku selalu ngomong juga ke tim aku kayak, aku gak anggap kalian sebagai, tim aku ada bos sama. Ya ada bondoris gitu ya. Aku benar -benar cerita semuanya gitu. Akan mereka. Jadi aku nganggap mereka adik lah. Atau temen gitu, temen main gitu. Ya itulah. Thank you for sharing Jerome. Iya. Gimana? Menarik ya obrolan tadi. Sebelum kita lanjut, aku cuma mau bilang kalau, podcast kali ini, disponsori langsung oleh, LinkedIn.
0
LinkedIn adalah website builder, yang bikin kamu punya website keren tersendiri, dan bisa jualan digital product, dan hasilnya ratusan juta dalam waktu sebulan. Jadi bagi kamu yang perasaran, langsung aja bikin LinkedIn. Mungkin aku memakai topi POV, ketika ketemu sama orang yang menurut aku, udah di top of mindnya, di level dia ngerjain sesuatu gitu. Apakah lu di industri kreatif dan lain -lain. Itu akan ada fase itu emang.
0
Akan ada fase ketika lu mempertanyakan, apakah semua orang itu transasional. Karena memang mereka akan melihat sisi kepentingannya gitu. Pasti ya. Kalau ketemu sama lu. Tapi gak menutup kemungkinan dari 10 orang, seperti itu ada satu orang kok yang bakal pure banget, yang memang melihat dari POV manusia gitu. Kalau dilepas baju Jerome Pauline, ya Jerome Pauline seorang Jerome Pauline, dibalik semua dia punya label, fame dan lain -lain.
0
Tapi dari 2015 ketika lu mulai itu, apakah ketemu kah atau? Masih proses lah. Tapi mungkin karena aku sibuk juga ya. Karena aku sibuk. Jadi ketika di masa -masa aku tidak sibuk, aku mulai merasa tuh sepi gitu. Kayak, wah gitu kan. Kayak ada rasa kosongnya gitu. Tapi ketika aku sibuk, akhirnya gak berasa sih. Ya, itu hal yang manusiawi. Yes.
0
Bahkan kayak banyak, sorry for saying, banyak orang -orang yang mungkin di level tertinggi fame, kayak SMB burn dan lain. Iya, iya. Kesepian. Itu bakal sangat kesepian. Makanya kesepian itu, ada dua pilihan. Apakah lu lari ke hal positif, atau lari ke hal negatif. Positif olahraga, baca buku, creating something. Jadi gua lihat lu ambil ke jalur yang positif. Yes, untung ya. Untungnya. Jadi aku kayak, sekarang aku senang banget, karena sekarang aku suka banget sama padel.
0
Oke. Dan disitu aku bisa ketemu orang, dan kayaknya purely buat berteman gitu. Meskipun gak hang out daily gitu. Iya, iya. Tapi ketika main padel, yaudah gak bahas kerjaan, ngomongin padel gitu. Ngomongin kayak, gak ngomongin aku sebagai seorang yang terkenal gitu. Tapi yaudah kayak main aja, main bareng padel gitu. Itu.
0
Itu sebenarnya yang, jadi alasan kenapa banyak, mungkin artis -artis ya, atau aktor -aktor Indonesia, ketika keluar negeri, kayak mereka, studi S1, S2 nya. Ya mereka happy, karena memang orang -orang disana, even gak kenal siapa mereka, dan mereka memakai topi mahasiswa gitu ya. Iya, iya. Itu banyak ya orang -orang seperti itu ya. Di Jepang pun aku, ketika ngobrol sama orang, gak cuma di Jepang sih, pas aku traveling, pas aku apapun, aku gak mungkin ngomong aku tuh kayak content creator, atau apa gitu. Karena apa?
0
Karena langsung beda bro. Langsung beda. Ya. Ya. Aku udah eksperimen, bukan eksperimen, ya aku udah eksperimen berat seorang yang aku ketemu, akan langsung beda. Ya. Langsung kayak, wah jerom gitu. Wah kamu ternyata ini ya gitu. Wah maaf ya, aku tadi -tadi santai banget sama kamu gitu. Ya gak apa -apa, aku gak gila hormat gitu. Aku ya emang pinginnya, santai aja gitu. Iya. Beberapa kali teman -teman yang datang ke sorba kelas juga, punya kesimpulan yang sama. Sukses itu bukan tempat yang nyaman.
0
Hmm. Ada sisi privasi yang akan lu kolbankan di sana. Iya. Tapi terlepas dari itu, ada privilege juga yang gak bisa didapatkan oleh orang -orang biasa. Pasti. So you have to grateful for that. Iya, iya. Banyak sekali privilege yang, ya akhirnya aku bisa dapat connection. Yang aku sadar adalah ketika aku di posisi yang sekarang, it's very easy for me buat networking. Setuju. Dan bahkan orang yang datang ke aku, bukan aku yang datangin orang gitu. Iya. Orang yang even, orang yang even selama ini lu idolakan bisa aja datang ke lu kan. Bisa, bener. Kayak kemaren aku ke Australia gitu kan.
0
Kemarin aku ke Australia, disponsorin, ada acara. Terus, salah satu sponsornya, itu adalah kayak, pokoknya sukses banget. Dia orang Indonesia, bahkan kekainnya itu Bill Gates. Hmm. Profile picture WA -nya, ada foto dia sama Bill Gates gitu. Tapi maksudnya dia, setelah ngobrol sama aku, dia interesse buat kayak, kayak invest in me gitu. Oke. Atau kayak invest di perusahaan aku dan sebagainya. Itu kan kayak, network yang susah banget dapetnya. Gimana cara kenalan sama orang ini gitu kan.
0
Jadi kayak aku, bener -bener rasa, ya privilege -nya gede banget sih. sekarang di posisi seperti ini. Dan aku percaya, ketika kamu punya suatu value. Ya, ketika kamu, ya aku juga suka banget sama self development. Jadi kayak, ketika kamu, reach certain value, itu kamu yang dicari. Setuju. Gak perlu kamu yang cari. Setuju. Ya kan, kamu dicari, dan ketika kamu dicari ya, everything will follow gitu. Hmm. Ya, the money will follow. Bener -bener.
0
Jadi bukan fokus ke cari uangnya, atau cari fame -nya, tapi fokus ke value diri kita nih. Ya. Kita punya value apa yang bisa kita, bring to the table. Hmm. Ya kan. Kita kesan klise memang, kalau kita menyarankan untuk jangan kejar uang. Tapi kalau, kamu kejar uang, kejar fame -nya doang, ntar gampang, menyerah di tengah jalan. Bener. Tapi kalau lo fokus nge -share lo punya value ke dunia. Iya. Dunia itu akan datang dalam bentuk uang, relasi, kehidupan yang lebih seru gitu ya. Ada konsep bagus bro. Gimana, gimana.
0
dalam bahasa Indonesia kayak gini. Jangan fokus untuk mengejar kupu -kupu. Tapi fokuslah untuk bikin taman yang bagus, meskipun kupu -kupu gak datang, setidaknya kamu punya taman yang bagus. Karena kalau kamu fokusnya cuma ngejar kupu -kupu, kamu gak dapet kupu -kupu itu, you don't have anything. Udah gak punya apa -apa lagi gitu. Tapi kalau kamu fokusnya untuk bikin taman, mungkin kupu -kupu datang.
0
Atau mungkin bahkan yang lebih bagus dari kupu -kupu datang. Ya. Benar. Setuju. Pun gak datang, kupu -kupu gak datang yang kita mau, kita punya taman yang bagus. Tapi taman yang bagus, itu akan datangin kupu -kupu aku yakin. Yes. Ya. Itu dia. Bagus sekali Jerome. Bagi yang gak paham, maksudnya yaitu kupu -kupu, uang, dan hal lainnya. Gak harus uang. Ya. Bisa juga orang yang kita suka. Benar. Cinta gitu kan. Fokusnya ngejar cinta.
0
Tapi, padahal misalnya, orang value segini gitu. Kita disini. Kita maunya ngejar orang, bukan naikin value kita supaya setara, tapi minginnya ngejar dia gitu. Yes. Nah itu kan, jadinya kalau kita gak dapet dia, ya kita tetap disitu. Gitu kan. Tapi kalau kita bisa naikin value kita, setara. Bagi juga aku mau share, jadi dulu, ini mungkin part of manifestation ya. Yang banyak orang gak tau. Ini aku sebenarnya lagi nulis buku juga. Dan aku ceritain ini di buku aku.
0
Dulu tahun 2018, kalau gak salah, Bu Susi, mantan menteri perikanan, datang ke Jepang bro. Oke. Di Tokyo waktu itu. Seminar kan. Terus setelah seminar, semua orang ngantri buat foto gitu kan. Terus, pada saat itu, aku gak mau ngantri foto. Terus temenku bilang, kenapa Jer? Aku bilang kayak, aku gak mau foto. Tapi, satu hari, aku yang bakal ada disitu.
0
Aku bilang kayak gitu. Wow. Satu hari, aku bakal ada duduk disitu. Aku yang jadi pembicaranya. Aku bilang kayak gitu. Terus, bener. Jadi kayak, di tahun 2020, sebelum covid, itu aku ada diundang sama, salah satu universitas di Indonesia, buat jadi pembicara. Itu bareng Bu Susi. Tapi sayangnya covid, jadi gak jadi. Tapi, udah ada posternya. Waktu itu aku sama Bu Susi. Wow. Itu kayak, wah. Itu kayak, wow gitu.
0
Jadi aku setiap kali, dan kemarin, pas aku di Australia itu, aku tuh diundang sama PPI bro. Oke. Buat jadi pembicara. Dan aku ngomong, ini adalah bentuk, semacam, semacam bentuk, hasil manifestasi atau, hasil kerja kerasku, yang aku, udah mulai dari dulu itu. Aku bilang, one day aku disana. Dan pada saat itu, posisinya aku adalah, PPI, dan aku mahasiswa. Hmm. Dan akhirnya, aku diundang sama mahasiswa, diundang sama PPI di Australia, untuk jadi pembicara. Hmm. Ngomong di depan.
0
Ya. Jangan terkejut, Gior. Itu emang, hadiah dari, semesta untuk lu yang emang, udah kerja keras selama ini. 8 tahun terakhir, Gior. Yes. Gue juga jadi saksi lu, seberkembang ini gitu. Ngomongin tentang mimpi, manifestasi. Oke. Gue juga sangat relate, ketika, ngebangun suara berkelas ya. Kita bangun dari nol.
0
Gue punya mimpi Gior, ketika 2018, 2019, gue punya mimpi suatu hari, gue ingin, bikin suatu, tempat yang mana, orang -orang yang berkelas, itu bisa duduk, ngobrol sama gue gitu. Itu gak tau dalam bentuk, talk show atau apa. Tapi itu bagian dari mimpi, dan manifestasi. Dan hari ini juga, gue udah undang lu aja, udah bagian dari, gue punya manifestasi gitu. Hmm. Dan, makanya, kita kalo ngomongin mimpi, manifestasi itu senyum gitu. Iya, iya. Itu yang bikin kita semangat, hidup gitu. Iya, iya. Hmm.
0
Apakah, hari -hari, hari -hari yang lu jalani hari ini, itu semua bagian dari lu punya mimpi, atau, emang, luck, yang datang beruntutan setelah lu kerja keras gitu. Oke. Ini seru ini, ngomongin ini. Yang pasti, banyak hal yang di dunia ini, yang kita gak bisa kontrol. Itu udah pasti. Ya kan.
0
Tapi, em, aku selalu mikir, manifestasi, atau, ketika kita bikin gold, dan kita, kita, dan ketika kita benar -benar yakin sama apa yang kita mau capai, apa sih yang ngebedain itu sama orang lain yang, gak seberapa yakin atau tidak, bermanifestasi, adalah, how you see the things that are happening gitu. Bagaimana kamu ngeliat sesuatu yang ada di depan mata kamu. Hmm. Itu yang ngebedain. Tahu red car teori gak?
0
Tahu ya? Go ahead. Jadi, teman -teman, red car teori itu adalah, ketika kamu, aku tanya sekarang, hari ini, kamu udah lihat berapa mobil merah, mungkin kamu gak tau, hah? Mobil merah gitu. Kamu gak perhatikan. Tapi ketika, aku ganti situasinya, untuk setiap mobil merah yang kamu lihat, aku akan kasih kamu 10 juta. Gitu. Kamu gak akan perhatiin tuh mobil merah. Bahkan apa? Bahkan kamu akan cari. Hmm. Karena kamu tau, setiap kali kamu lihat mobil merah, kamu akan dapat 10 juta.
0
Akhirnya, sepanjang perjalanan, sepanjang hari ini, fokusmu cuma cari mobil merah. Bahkan kamu gak sadar ada mobil warna lain. Karena kamu bener -bener cuma fokus ke, mobil merah itu. Yap. Dan itu, jadi ketika, kita fokusnya kepada, hal baik, hal baik di orang, ya misalnya contohnya, ya kita akan fokusnya ke hal baik -hal baiknya dia. Makanya ada, bilang, makanya ada kursus yang bilang, cinta itu buta gitu. Iya. Karena ketika kita udah sayang sama orang, kita fokusnya ke baik -baiknya doang. Buruk -buruknya kita gak lihat. Bener.
0
Terus baliknya, ketika kita udah gak suka sama seseorang, dia mau baik sekalipun, kita udah gak bisa lihat. Bener. Kita fokusnya ke buruk -buruknya dia gitu. Itulah red card teori. Angkatnya apa? Otak kita itu bisa kita latih. Fokusnya itu bisa kita set, fokus kemana gitu. Nah, ya aku lihat ketika orang kayak kita ini, yang suka manifest atau yang percaya sama mimpi kita, kita tuh akan melihat kesempatan terus gitu.
0
Meskipun ada masalah, meskipun ada rintangan, kita lihat, oh ini ada kesempatannya nih. Oh ini ada, pasti bisa nih gitu. Tapi orang yang mungkin gak seyakin itu, mereka akan melihatnya, wah ini mah masalah besar nih. Wah ini mah gak bisa sih kalau kayak gini gitu. Akhirnya disitu bedanya. Dan kemarin aku sempat baca, suatu riset, jadi ada di otak kita itu ada yang namanya, reticulate, kalau salah namanya reticular activating system atau RAS.
0
Itu adalah kayak semacam filter di otak kita, untuk ngefilter informasi yang begitu banyak, yang bikin kita tuh sadar, kalau kita dipanggil, kalau nama kita dipanggil tuh kita disebut, di saat lagi rame -rame. kan banyak banget tuh suara kan. Iya, iya. Tapi ketika dipanggil Jerome gitu, aku jadi sadar gitu. Nah itu ada bagian otaknya yang, khusus untuk menangkap informasi itu, menangkap informasi yang penting.
0
Yang artinya, ketika kita fokus atau reticular theory ini, itu berhubungan sama itu bro. Jadi kita ngeaktifin otak kita, untuk fokus pada peluang, fokus pada opportunity -nya, fokus pada kesempatan -kesempatannya itu. Sehingga kita melihat things itu differently. Jadi ada dua orang yang satu, misalnya dia fokus pada baik -baiknya, dan fokus pada, yang ini fokus pada masalahnya, akan berbeda approach -nya. Iya, iya. Jadi aku bener -bener percaya, terhadap itu semua gitu.
0
Kayak bikin mimpi yang besar, terus berjuang untuk itu, percaya kalau kamu bisa mencapainya, itu akan secara biologi, secara psikologis, secara biologis pun, itu mendukung kita gitu. Hmm. Jadi ya, hasilnya aku hari ini adalah hasil dari semua itu sih. Aku rasa. Jujur gue suka banget sama cara pandang itu.
0
Ada satu cara pandang yang menarik juga dari Simon Sinek, dia bilang bahwa, Simon Sinek. lu akan melihat peluang yang lebih besar. That's nice. Fokus aja, emang pohon akan lebih bikin lu distract gitu. Tapi kalau lu fokus, bisa aja ketabrak.
0
End of preview. Expand in Data Studio
README.md exists but content is empty.
Downloads last month
7